Bicaraindonesia.id, Lumajang – Kejuaraan Daerah (Kejurda) Finswimming Jawa Timur 2026 resmi ditutup di Kolam Renang Veteran Lumajang pada Minggu (10/5/2026).
Ajang ini tak hanya menghadirkan persaingan perebutan medali, tetapi juga menjadi momentum munculnya regenerasi atlet selam Jawa Timur menuju level nasional hingga internasional.
Selama tiga hari pelaksanaan, sebanyak 654 atlet dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur mengikuti persaingan dalam 144 nomor pertandingan, mulai kategori usia dini hingga senior.
Persaingan berlangsung ketat di berbagai nomor seperti surface, bifin, estafet, hingga apnea yang beberapa kali menghadirkan atmosfer menegangkan di arena perlombaan.
Pada nomor apnea, perhatian penonton tertuju ketika atlet harus meluncur dari garis start hingga finis tanpa mengambil napas. Suasana tribun bahkan sempat hening saat para atlet berjuang melawan batas kemampuan fisik dan mental mereka di dalam air.
Ketua Umum POSSI Jawa Timur, Mirza Muttaqien, mengatakan nomor apnea menjadi gambaran bahwa olahraga finswimming bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga fokus dan keberanian atlet.
“Bayangkan, dari start sampai finis tanpa napas. Di situ bukan hanya fisik yang diuji, tetapi juga mental, fokus, dan keberanian atlet,” ujar Mirza dalam keterangan tertulis dikutip pada Selasa (12/5/2026).
Menurut Mirza, Kejurda Finswimming Jatim 2026 bukan sekadar ajang perebutan gelar juara, melainkan bagian penting dari proses pembinaan atlet jangka panjang di Jawa Timur.
Ia menilai kesempatan tampil di level provinsi menjadi panggung penting bagi atlet daerah untuk berkembang.
“Kami ingin atlet-atlet dari daerah juga punya panggung yang sama untuk berkembang dan bermimpi lebih jauh,” katanya.
Selain persaingan di kolam, suasana emosional juga terlihat di tribun penonton. Sejumlah orang tua tampak merekam momen anak-anak mereka sejak start hingga finis. Beberapa pelatih memeluk atlet usai lomba, sementara sejumlah atlet muda terlihat menangis setelah menyelesaikan pertandingan.
“Tidak semua pulang membawa medali. Tapi semua pulang membawa cerita,” lanjut Mirza.
Dalam klasemen akhir, kontingen Kota Surabaya tampil dominan dan keluar sebagai juara umum dengan raihan 34 medali emas, 40 perak, dan 33 perunggu.
Posisi kedua ditempati Kota Kediri dengan 21 medali emas, 17 perak, dan 15 perunggu. Kabupaten Pasuruan berada di peringkat ketiga dengan 12 emas, 13 perak, dan 16 perunggu.
Sementara itu, Kabupaten Malang menempati posisi keempat dengan 10 emas, 9 perak, dan 2 perunggu, disusul Kabupaten Nganjuk di posisi kelima dengan 10 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.
Hasil tersebut menunjukkan dominasi finswimming Jawa Timur tidak lagi hanya berasal dari kota-kota besar. Persaingan yang semakin merata dinilai menjadi sinyal positif perkembangan olahraga selam di berbagai daerah.
Selain menjadi ajang pembinaan olahraga, Kejurda Finswimming Jawa Timur 2026 juga memberikan dampak ekonomi bagi Kabupaten Lumajang.
Kehadiran atlet, pelatih, official, wasit, juri, hingga keluarga peserta membuat hotel, penginapan, dan warung makan di sekitar venue ramai selama kejuaraan berlangsung.
Kejurda Finswimming Jatim 2026 diyakini menjadi awal perjalanan baru bagi banyak atlet muda. Nama-nama yang saat ini masih bersaing di level daerah diprediksi berpotensi menjadi wakil Indonesia pada kejuaraan nasional maupun internasional di masa mendatang. (*/Dap/A1)

Tinggalkan Balasan