Bicaraindonesia.id, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta di balik maraknya ikan sapu-sapu di perairan Indonesia. Ledakan populasi spesies ini disebut sebagai “alarm ekologi” yang menandakan kerusakan lingkungan dan pencemaran perairan yang semakin serius.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menegaskan bahwa fenomena tersebut bukan semata persoalan keberadaan ikan invasif, melainkan indikator kuat memburuknya kualitas ekosistem perairan.
“Ikan sapu-sapu ini adalah bio-indikator untuk kerusakan lingkungan. Jadi jangan salahkan ikan sapu-sapunya dulu. Masalah utamanya adalah kontaminasi. Selama kontaminasinya tidak kita tutupi dan kita tidak merehabilitasi perairan sungai, maka ikan invasif akan terus muncul,” ujar Triyanto seperti dilansir melalui laman resmi brin.go.id pada Sabtu (2/5/2026).
Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) merupakan spesies pendatang dari Amerika Selatan yang masuk melalui perdagangan ikan hias. Namun, kemampuan adaptasi tinggi di lingkungan ekstrem membuatnya justru mendominasi sungai-sungai tercemar di Indonesia.
Menurutnya, ikan sapu-sapu mampu bertahan dalam kondisi kadar oksigen rendah dan polusi tinggi, situasi yang tidak mampu ditoleransi oleh banyak ikan lokal. Kondisi ini mempercepat dominasi spesies invasif sekaligus menekan populasi ikan asli.
Selain mengancam keanekaragaman hayati, Triyanto menyebut ikan sapu-sapu juga membawa dampak lain yang lebih luas.
“Dampaknya pertama adalah kompetisi sumber daya. Ikan sapu-sapu lebih rakus dan pertumbuhannya lebih cepat. Mereka menguasai ruang dan makanan, sehingga ikan lokal kita kalah. Secara fisik, mereka juga merusak infrastruktur tebing sungai karena kebiasaan membuat lubang untuk bersarang,” jelasnya.
Menurut dia, minimnya predator alami di Indonesia membuat populasi ikan ini sulit dikendalikan. “Di Amazon sana ada buaya atau berang-berang yang memakan mereka. Di sini, predator alaminya hampir tidak ada, kecuali manusia,” katanya.
Terkait konsumsi, Triyanto menilai ikan sapu-sapu sebenarnya memiliki nilai gizi sebagai sumber protein. Namun, ia mengingatkan adanya potensi bahaya jika ikan berasal dari perairan tercemar.
“Namun, karena di kita mereka hidup di perairan tercemar, mereka menyerap logam berat melalui mekanisme protein metallothionein,” ungkapnya.
BRIN pun mendorong pemanfaatan ikan sapu-sapu ke sektor non-pangan seperti pupuk organik, pakan ternak, hingga bio-char sebagai langkah pengendalian populasi yang lebih aman.
Lebih jauh, Triyanto menekankan bahwa penanganan ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terintegrasi lintas wilayah. Tanpa koordinasi antara Jakarta dan daerah penyangga seperti Depok, Cibinong, dan Bekasi, siklus pertumbuhan populasi akan terus berulang dari hulu ke hilir.
“Kalau cuma dibersihkan di Jakarta tapi kota satelitnya tidak berkoordinasi, telur dan anakan ikan dari hulu akan terus masuk ke Jakarta. Ini akan jadi siklus yang tidak berhenti,” tegasnya.
Ia menekankan solusi utama bukan sekadar mengendalikan spesies invasif, tetapi memperbaiki kualitas lingkungan perairan. Sungai yang bersih dinilai menjadi kunci utama untuk menekan pertumbuhan ikan sapu-sapu di Indonesia.
“Pengendalian ikan asing ini, baik yang asing maupun invasif, adalah mari kita cegah, kendalikan, dan manfaatkan sesuai peruntukannya serta mendukung kesehatan dan keberlanjutan sumberdaya,” tutupnya. (*/Brin/B1)

Tinggalkan Balasan