Bicaraindonesia.id, Surabaya – Sebanyak 390 pesilat dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur ambil bagian dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) IPSI Jatim 2026 yang digelar di Gelora Pancasila Surabaya pada 17-21 Mei 2026.
Ajang bertajuk Piala BHS Cup tersebut menjadi panggung awal perebutan tiket menuju Pra-PON 2027 dan PON 2028.
Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia Jawa Timur, Bambang Harjo Soekartono (BHS) menegaskan bahwa Kejurprov bukan sekadar agenda rutin olahraga daerah, melainkan bagian dari proses panjang pembentukan kekuatan Jawa Timur menghadapi persaingan nasional.
“Ajang ini menjadi bagian dari seleksi atlet menuju Pra-PON dan PON. Kami ingin memastikan Jawa Timur kembali memiliki kekuatan besar di pencak silat,” ujar Bambang Harjo, Minggu (17/5/2026).
Menurutnya, seluruh peserta akan dipantau secara ketat untuk disaring menjadi bagian dari skuad Puslatda.
Seleksi lanjutan juga direncanakan kembali digelar pada November mendatang guna menentukan atlet terbaik yang layak membawa nama Jawa Timur di ajang nasional.
Di tengah keterbatasan anggaran olahraga, IPSI Jatim tetap berkomitmen menjaga pembinaan atlet berjalan maksimal. Penyusutan anggaran KONI dan Dispora disebut membuat pembinaan harus dilakukan dengan inisiatif internal organisasi.
Meski demikian, BHS menegaskan pembinaan atlet tidak boleh berhenti karena pencak silat tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga pembentukan karakter generasi muda melalui disiplin, budaya, kesantunan, dan mental tangguh.
“Olahraga, khususnya silat, menjadi bagian penting membangun generasi muda yang kuat secara fisik maupun karakter,” katanya.
BHS juga menyoroti target berat yang dipasang KONI Jatim setelah capaian pencak silat Jawa Timur pada beberapa PON terakhir dinilai belum maksimal.
Pada PON sebelumnya, Jawa Timur hanya mampu meraih dua medali emas, sedangkan pada PON mendatang pencak silat ditargetkan mampu menembus lebih dari empat emas.
Meski begitu, BHS optimistis target tersebut realistis karena Jawa Timur masih memiliki stok atlet elite berkelas dunia seperti Sarah Tria Monita, Mochammad Amri, hingga sederet atlet muda potensial dari berbagai daerah.
“Pembinaan sekarang jauh lebih baik. Kami yakin prestasi Jawa Timur akan meningkat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, M. Nabil mengapresiasi langkah IPSI Jatim yang tetap mampu menggelar kejuaraan besar secara mandiri.
Menurutnya, besarnya jumlah peserta harus diikuti peningkatan kualitas prestasi di level nasional agar pencak silat Jawa Timur kembali menjadi kekuatan utama di Indonesia.
“Jangan hanya ramai peserta, tetapi prestasi stagnan. Harus ada lompatan kualitas,” kata Nabil.
Ia menilai Kejurprov menjadi momentum penting karena Porprov 2027 sudah berdekatan dengan Babak Kualifikasi PON. Karena itu, proses pencarian atlet terbaik harus dilakukan sejak sekarang melalui sistem seleksi objektif berbasis hasil pertandingan.
Nabil bahkan menegaskan tidak boleh ada lagi atlet yang dipilih tanpa melalui proses kompetitif.
“Nomor pertandingan ada 22. Sangat ironis kalau Jawa Timur tidak menjadi kekuatan besar pencak silat,” tandasnya.
Sebagai bentuk keseriusan pembinaan, IPSI Jatim berkomitmen menggelar minimal empat kejuaraan selevel Kejurprov setiap tahun untuk menjaga atmosfer kompetisi dan regenerasi atlet tetap berjalan. (*/Dap/A1)

Tinggalkan Balasan