Bicaraindonesia.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggelar sayembara desain ibu kota negara baru. Sayembara ini secara resmi diluncurkan pada Rabu, (02/10/2019) di Kalimantan Timur.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan, sayembara itu untuk menetapkan desain dengan konsep smart city dan forest city.
“Nanti jurinya anak muda, karena ini kota untuk anak muda ke depan, kami the old fashioned ini enggak gampang saya harus tahu betul maunya anak muda ke depan,” kata Basuki di Jakarta, Selasa (01/10/19).
Menurut dia, sayembara ini sudah melalui tahapan finalisasi kerangka acuan kerja hingga 30 September 2019. Dilanjutkan dengan pengumuman dan pendaftaran sayembara pada 2-11 Oktober 2019.
Kemudian, pada 11 Oktober sampai 22 Desember, dilanjutkan dengan pelaksanaan sayembara. Setelah itu, dilanjutkan pengumuman dan penetapan pemenang sayembara pada 23 Desember 2019.
“Dikasih waktu sampai jadwalnya Desember. Akhir Desember masuk, terus dinilai, terus kita umumkan juaranya,” jelas Menteri Basuki.
Setelah pemenang diumumkan, penyusunan urban design akan dilakukan pada 1 Januari hingga 31 Agustus 2020, yang kemudian pengayaan rancangan kota hasil sayembara nasional itu, dibawa kepada Ahli Internasional, pada 1 April sampai 31 Agustus 2020.
Dalam sayembara ini, ada TOR yang harus diacu para peserta dalam merancang desain. TOR ini sebagai tuntutan agar desain tak melenceng dari konsep pembangunan ibu kota baru.
“Kota kita, yang saya ingat harus tolerance, talent dan technology,” terangnya.
Pihaknya ingin ibu kota baru nantinya bisa membuat top talent RI bersedia dan betah tinggal di sana. Salah satu indikatornya adalah hal tersebut.
“Indikator gampangnya gitu. Tidak hanya top talent Indonesia, kita ingin top talent dunia mau tinggal di situ. Sekarang ini di ASEAN, orang tinggalnya di Singapura, enggak di Jakarta. Kita ingin top talent itu tinggal di Indonesia, di ibu kota itu,” imbuhnya.
Sejalan dengan itu, Basuki mencontohkan, bahwa desain itu harus mewadahi kemungkinan keseharian calon warga ibu kota baru. Kebutuhan terhadap pusat perbelanjaan dan kebiasaan bertransportasi juga dipertimbangkan.
“Apalah masih perlu dengan mal besar atau mobil pribadi? belum tentu,” paparnya.
Karena itu, pihaknya akan memprioritaskan transportasi massal. Bila perlu, fasilitas bagi pejalan kaki akan dibangun dengan baik. Sementara terkait pusat perbelanjaan, kebutuhan terhadapnya juga harus mampu terjawab dalam desain.
“Sekarang mall sudah pada tutup misalnya, karena dengan adanya teknologi itu sudah enggak perlu. Nah ini kotanya harus didesain seperti itu. Itu bapak-bapak juri sudah merumuskan di dalam TOR,” pungkasnya.