Bicaraindonesia.id, Libanon – Kepala Misi dan Komandan Pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), Diodato Abagnara, memberikan penghormatan terakhir kepada prajurit penjaga perdamaian yang gugur dalam insiden di Libanon selatan.

Upacara penghormatan digelar di landasan Bandara Beirut sebelum jenazah dipulangkan ke Prancis, Senin (20/4/2026). Prajurit yang gugur tersebut adalah Florian Montorio (39), yang meninggal dunia sehari sebelumnya dalam insiden di Ghanduriyah saat menjalankan tugas menjaga perdamaian.

Dalam upacara tersebut, Mayor Jenderal Abagnara menyampaikan penghormatan mendalam atas dedikasi dan pengorbanan Montorio.

“Sebagai komandanmu, saya berbicara dengan penuh hormat dan hati yang berat. Florian, pengabdianmu tidak berakhir di sini. Pengabdian itu akan terus hidup dalam apa yang kami lakukan selanjutnya sebagai prajurit, sebagai penjaga perdamaian; kita semua memikul tanggung jawab untuk melanjutkannya,” ujar Abagnara dalam pernyataan resmi UNIFIL dikutip pada Senin (20/4/2026).

Baca Juga:  Kemlu: WNI di Lebanon Aman, KBRI Siaga Pantau Eskalasi Konflik

Ia menegaskan bahwa pengabdian Montorio akan terus hidup dalam setiap tugas para penjaga perdamaian.

“Anda telah memberikan segalanya untuk perdamaian di tanah ini. Anda mendapatkan seluruh rasa hormat kami,” lanjutnya.

Montorio meninggalkan seorang istri dan dua anak perempuan. Kepada keluarga yang ditinggalkan serta Angkatan Bersenjata Prancis, Abagnara menyampaikan duka cita mendalam.

“Kami berdiri bersama dalam duka, dengan penuh hormat, dan dengan rasa terima kasih sebagai UNIFIL,” ujarnya.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, Montorio dianugerahi medali dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Angkatan Darat Libanon secara anumerta atas dedikasinya dalam menjaga perdamaian di Lebanon selatan.

Baca Juga:  Kemlu: WNI di Lebanon Aman, KBRI Siaga Pantau Eskalasi Konflik

Upacara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi, termasuk Kepala Staf UNIFIL sekaligus pejabat senior Prancis di misi tersebut, Paul Sanzey; Duta Besar Prancis untuk Lebanon, Hervé Magro; perwakilan Kementerian Pertahanan Lebanon dan Angkatan Darat Lebanon, Maroun Azzi; serta Komandan Kontingen Prancis UNIFIL, Gaspard Lancrenon.

Mayor Jenderal Sanzey menilai Montorio mencerminkan komitmen Prancis yang konsisten terhadap UNIFIL sejak misi tersebut dibentuk pada 1978. Ia menegaskan bahwa negaranya tetap berkomitmen penuh dalam mendukung misi penjaga perdamaian.

“Melalui kehadiran unit-unit berpengalaman dan sangat profesional, mereka melakukan patroli darat, pembersihan rute, serta operasi penjinakan ranjau, dan mendukung peningkatan kapasitas Angkatan Bersenjata Lebanon,” ujarnya.

Baca Juga:  Kemlu: WNI di Lebanon Aman, KBRI Siaga Pantau Eskalasi Konflik

“Prancis menghormati kenangan para prajuritnya yang heroik yang, di bawah bendera Prancis, telah memberikan pengorbanan tertinggi dalam tugas menjaga perdamaian,” lanjutnya.

Diketahui sebelumnya, patroli UNIFIL yang tengah membersihkan bahan peledak di sepanjang jalan untuk membuka kembali akses ke sejumlah posisi terisolasi, mendapat serangan senjata ringan. Serangan tersebut menewaskan Montorio dan melukai tiga prajurit lainnya, dua di antaranya dalam kondisi serius.

UNIFIL telah meluncurkan investigasi untuk mengungkap kronologi dan pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. Misi ini juga mendesak Pemerintah Libanon untuk segera melakukan penyelidikan guna memastikan para pelaku dimintai pertanggungjawaban atas serangan terhadap penjaga perdamaian. (*/Pr/A1)