Bicaraindonesia.id, Surabaya – Upaya membenahi wajah sepak bola Indonesia tak hanya menyasar pemain dan wasit, tetapi juga menyentuh peran media melalui Workshop Laws of The Game yang digelar Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bersama Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Studio Gedung U5 Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa itu diikuti puluhan jurnalis dari Surabaya dan sekitarnya.
Workshop tersebut tidak hanya berfokus pada teori, melainkan mendorong perubahan cara pandang jurnalis dalam membaca dan memahami keputusan wasit di lapangan.
Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa menegaskan media memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi publik terhadap sepak bola, khususnya dalam menilai kinerja perangkat pertandingan.
Ia menilai masih banyak pemberitaan yang dibangun dari opini atau interpretasi pribadi, bukan berdasarkan Laws of The Game, sehingga berpotensi memicu kesalahpahaman hingga memperkeruh situasi pertandingan.
“Media memegang peranan kunci. Karena itu kami ingin berbagi pemahaman agar pemberitaan bisa lebih akurat dan membantu perkembangan sepak bola Indonesia,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Ogawa juga menyoroti persoalan klasik di mana wasit kerap menjadi pihak yang disalahkan saat tim mengalami kekalahan. Ia mengungkapkan, kekerasan terhadap perangkat pertandingan masih terjadi, baik di level amatir maupun profesional.
Berbekal pengalaman lebih dari 30 tahun di dunia perwasitan, Komite Wasit PSSI kini mencoba mengubah pendekatan dengan membuka ruang komunikasi bersama klub.
Selain itu, PSSI juga menghadirkan sistem “Refer System”, sebuah aplikasi yang memungkinkan klub menyampaikan pertanyaan atau komplain pascalaga secara terstruktur.
Sistem ini memfokuskan pada empat aspek krusial, yakni keputusan gol, penalti, kartu merah langsung, serta mistaken identity. Ogawa menyebut inovasi tersebut masih jarang digunakan di Asia dan menjadi salah satu terobosan Indonesia di kawasan ASEAN.
Workshop berlangsung interaktif dengan melibatkan peserta dalam analisis cuplikan pertandingan dari kompetisi domestik seperti BRI Super League dan Pegadaian Championship. Berbagai momen key match incident (KMI) diputar, mulai dari potensi penalti, kartu merah, hingga handball.
Para jurnalis diminta menentukan keputusan layaknya wasit sebelum dibahas berdasarkan aturan resmi. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan pemahaman komprehensif sekaligus menggambarkan kompleksitas pengambilan keputusan di lapangan.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari pihak kampus. Wakil Dekan 1 FIKK Unesa, Gigih Siantoro, menyebut workshop ini memberikan nilai tambah bagi insan media serta membuka peluang kolaborasi lanjutan.
“Ini agenda yang sangat positif. Kami terbuka jika kegiatan seperti ini digelar kembali,” ujarnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan laga fun football di Lapangan Sepak Bola Unesa yang mempertemukan tim jurnalis melawan tim Unesa.
Pertandingan berlangsung santai dan penuh keakraban, dengan kemenangan 5-2 untuk tim Unesa yang diperkuat sejumlah figur sepak bola nasional seperti Yunus Nusi dan Gusti Randa.
Yunus Nusi bahkan membuka keunggulan lebih dulu dalam laga tersebut. Ia menilai pertandingan semacam ini penting untuk menjaga kebersamaan sekaligus kesehatan.
“Pertandingan seperti ini penting untuk menjaga kebersamaan sekaligus kesehatan,” pungkas Yunus. (*/Dap/A1)

Tinggalkan Balasan