Bicaraindonesia.id, Surabaya – Pemerintah Provinsi (Pemprpv) Jawa Timur memberikan bonus Rp1,8 miliar kepada atlet difabel peraih medali ASEAN Para Games 2025. Bonus tersebut diberikan tanpa perbedaan dengan atlet non-difabel sebagai bentuk komitmen kesetaraan dalam dunia olahraga.
Ajang yang berlangsung di Nakhon Ratchasima pada 20-26 Januari 2026 mencatatkan Indonesia sebagai runner-up dengan raihan 135 emas, 143 perak, dan 114 perunggu. Atlet asal Jawa Timur menjadi salah satu kontributor utama dalam capaian tersebut.
Sebanyak 15 atlet dan dua pelatih dari Jawa Timur menyumbangkan total 33 medali, terdiri dari 10 emas, 19 perak, dan empat perunggu.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jatim, Hadi Wawan Guntoro, mengatakan capaian tersebut menunjukkan atlet difabel mampu bersaing di level internasional.
“Ini capaian luar biasa dan menjadi kebanggaan Jawa Timur sekaligus Indonesia,” ujar Wawan di Surabaya,” Rabu (15/4/2026).
Sebagai bentuk apresiasi, Pemprov Jatim menggelontorkan anggaran sebesar Rp1,8 miliar yang ditransfer langsung ke rekening atlet dan pelatih. Skema bonus yang diberikan setara dengan atlet peraih medali SEA Games 2025.
Untuk nomor perorangan, peraih emas menerima Rp73,125 juta, perak Rp43,625 juta, dan perunggu Rp24,125 juta. Sementara kategori beregu mendapatkan nominal berbeda sesuai jumlah anggota tim.
Wawan menegaskan kesamaan nilai bonus merupakan bagian dari kebijakan afirmatif untuk menghapus perbedaan antara atlet difabel dan non-difabel.
“Kesetaraan itu harus nyata, bukan sekadar wacana. Di Jawa Timur, itu sudah diwujudkan,” tegasnya.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut para atlet sebagai pahlawan olahraga yang telah mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional.
Ia menambahkan penghargaan tersebut menjadi dorongan untuk meningkatkan prestasi ke depan.
“Terima kasih atas perjuangan luar biasa. Tapi jangan cepat puas, karena tantangan ke depan semakin kompetitif,” kata Khofifah.
Pemprov Jatim kini mempersiapkan atlet untuk menghadapi Asian Para Games 2026 yang akan digelar di Jepang pada Oktober 2026.
Ajang tersebut menjadi target berikutnya untuk menjaga konsistensi dan meningkatkan prestasi atlet difabel Indonesia. (*/Dap/A1)

Tinggalkan Balasan