Bicaraindonesia.id, Yogyakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan tanaman malapari (Pongamia pinnata) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sebagai upaya mendukung ketahanan dan kedaulatan energi nasional berkelanjutan. Program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan PT Lembata Hira Sejahtera (BATARA) dan Pemerintah Kabupaten Lembata.
Pengembangan malapari dinilai strategis karena tanaman ini berpotensi menjadi sumber energi hijau masa depan. Selain menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan, malapari juga berpeluang meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendukung penurunan emisi karbon.
Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Botani Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Prof. Budi Leksono, dalam diskusi pengembangan bioenergi dan pemanfaatan sumber daya hayati lokal di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Menurut Budi, biji malapari menghasilkan minyak non-pangan (non-edible oil) yang berpotensi besar sebagai bahan baku biodiesel dan bioavtur. Minyak non-pangan ini dinilai strategis karena tidak bersaing dengan kebutuhan pangan serta sejalan dengan kebijakan internasional sektor penerbangan terkait penggunaan bahan bakar berkelanjutan.
“Secara alami, rendemen minyak malapari berada pada kisaran 20-28 persen, dan melalui seleksi genetik serta optimalisasi metode ekstraksi, dapat ditingkatkan hingga sekitar 44 persen,” ujar Budi seperti dikutip melalui laman resmi BRIN pada Minggu (18/1/2026).
Ia menjelaskan, riset pemuliaan tanaman yang dilakukan BRIN difokuskan untuk menghasilkan pohon malapari unggul yang cepat berbuah, memiliki produktivitas tinggi, dan rendemen minyak optimal.
Selain berpotensi sebagai sumber bioenergi, malapari juga memiliki keunggulan ekologis. Sebagai tanaman legum, malapari mampu mengikat nitrogen dari udara melalui bintil akar sehingga tidak memerlukan pupuk nitrogen dalam jumlah besar.
“Karakter tersebut menjadikan malapari sangat adaptif pada lahan marginal dan wilayah dengan kondisi kering ekstrem, seperti di Indonesia bagian timur, termasuk Lembata,” jelasnya.
Meski memiliki sebaran habitat yang luas, mulai dari kawasan pesisir hingga ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, Budi mengingatkan bahwa fragmentasi habitat akibat alih fungsi lahan dapat menurunkan kualitas genetik tanaman dan berdampak pada produktivitas.
Sebagai tindak lanjut, pengembangan malapari di Lembata kini diintegrasikan dengan sistem agroforestri berbasis masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tetap dapat menanam tanaman pangan dan komoditas lain seperti kopi, kakao, maupun tanaman semusim di bawah tegakan malapari.
Lebih lanjut, Budi menyebutkan bahwa pengembangan malapari tidak hanya ditujukan untuk produksi bioenergi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim nasional.
Ia meyakini, penanaman malapari dalam skala luas berpotensi mendukung pencapaian target penurunan emisi karbon nasional serta membuka peluang perdagangan karbon yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Pada tahun ini, keterlibatan riset BRIN akan difokuskan pada penyiapan sumber benih malapari yang tersertifikasi serta pengembangan benih unggul malapari asli Lembata,” katanya. (*/BRIN/B1)

Tinggalkan Balasan