Bicaraindonesia.idPandemi COVID-19 memasuki tahun ketiga. Sementara di 23 negara, hampir 405 juta pelajar belum kembali ke bangku sekolah. Itu lantaran lembaga pendidikan belum sepenuhnya kembali dibuka.

Dengan belum sepenuhnya sekolah dibuka, UNICEF (United Nations Children’s Fund), Badan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai, hal itu akan berisiko banyaknya anak putus sekolah. Hal ini dinyatakan dalam laporan UNICEF yang diluncurkan pada Kamis, 31 Maret 2022.

Laporan yang berjudul ‘Are children really learning?‘ ini, menggunakan data tingkat negara untuk mengetahui penutupan sekolah karena dampak pandemi COVID-19. Laporan UNICEF itu juga memberikan analisis terbaru tentang situasi belajar anak sebelum pandemi.

Dalam laporannya itu, UNICEF menyatakan, hampir 147 juta anak kehilangan lebih dari separuh waktu belajar di kelas selama 2 tahun terakhir. Secara total, anak-anak di seluruh dunia kehilangan 2 triliun jam waktu belajar secara tatap muka.

Baca Juga:  Ini Jadwal TKA SD dan SMP 2026, Pendaftaran Dibuka Januari

“Saat anak tidak bisa berinteraksi langsung dengan guru dan teman-temannya, pembelajaran mereka terganggu. Saat interaksi dengan guru dan teman-teman sama sekali tidak bisa dilakukan, maka kehilangan pembelajaran itu menjadi permanen,” ujar Catherine Russell, Direktur Ekseutif UNICEF melalui keterangan tertulis yang diterima Bicaraindonesia.id dikutip Jumat (1/4/2022).

“Dengan ketimpangan yang makin tinggi dalam hal akses belajar, pendidikan berpotensi menjadi pemisah yang terbesar, bukan penyetara. Saat dunia gagal memberikan pendidikan kepada anak-anak, konsekuensinya akan ditanggung oleh kita semua,” sambung dia.

Selain data mengenai kehilangan pembelajaran, laporan tersebut juga menyatakan makin banyak bukti menunjukkan bahwa tidak sedikit anak yang tidak kembali ke ruang kelas meski sekolah telah dibuka.

Unicef menilai, bahwa anak-anak yang tidak bersekolah termasuk kelompok anak yang paling rentan dan termarjinalkan di masyarakat. Mereka merupakan kelompok yang paling kecil kemungkinannya dapat membaca, menulis, atau berhitung dasar, dan mereka tersisih dari jaring pengaman yang disediakan oleh sekolah. Akibatnya, mereka lebih berisiko mengalami eksploitasi dan kemiskinan serta deprivasi di sepanjang hidupnya.

Baca Juga:  Ini Jadwal TKA SD dan SMP 2026, Pendaftaran Dibuka Januari

Selain itu, laporan UNICEF juga menyoroti bahwa meskipun anak-anak yang tidak bersekolah mengalami kehilangan yang terbesar, data pra-pandemi dari 32 negara dan teritori menunjukkan tingkat pembelajaran yang sangat memprihatinkan.

Situasi ini sangat mungkin telah diperparah oleh skala kehilangan pembelajaran akibat pandemi. Di negara-negara yang dianalisis, kecepatan pembelajaran saat ini sangat lambat dan diperkirakan dibutuhkan tujuh tahun bagi sebagian besar anak bersekolah untuk mempelajari kemampuan literasi dasar, yang seharusnya bisa dikuasai dalam dua tahun, dan 11 tahun untuk mempelajari kemampuan numerasi dasar.

Baca Juga:  Ini Jadwal TKA SD dan SMP 2026, Pendaftaran Dibuka Januari

Dalam banyak kasus, tidak ada jaminan bahwa anak bersekolah dapat mempelajari pengetahuan dasar apa pun. Di 32 negara dan teritori yang dianalisis, seperempat murid kelas 8 atau berusia sekitar 14 tahun, tidak memiliki kemampuan literasi dasar dan lebih dari separuhnya tidak memiliki kemampuan numerasi yang seharusnya dikuasai oleh murid kelas 2, atau anak berusia sekitar 7 tahun.

“Sebelum pandemi pun, anak-anak yang paling termarjinalkan sudah tertinggal. Sekarang, pandemi memasuki tahun ketiganya, dan kita tidak bisa kembali ke situasi normal,” kata Russell.

Karena itu, UNICEF berpendapat, bahwa saat ini yang dibutuhkan adalah normal baru. Dimana anak-anak kembali bersekolah dan bagaimana memberikan dukungan intensif untuk mengembalikan pembelajaran yang hilang.

“Dan memastikan guru memperoleh pelatihan dan sumber daya yang mereka butuhkan. Risikonya terlalu besar jika hal-hal ini tidak dilakukan,” ujar Russell. (SP/A1)