Bicaraindonesia.id, Surabaya – Perkembangan zaman membawa perubahan di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang arsitektur yang menjadi wadah kreativitas manusia.
Menyikapi dinamika tersebut, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof. Dr. Ir. Murni Rachmawati, MT, mendalami peran manusia sebagai titik pusat kehidupan melalui perspektif arsitektur berkelanjutan.
Dalam kajiannya, Murni menemukan bahwa selama 18 tahun terakhir, perkembangan ilmu arsitektur dihadapkan pada tiga tantangan utama, yakni aspek alam, teknologi, dan kemanusiaan.
“Selain tiga aspek tersebut, semakin tahun tantangan yang muncul juga semakin banyak dan beragam,” ujar Murni dalam siaran tertulisnya dikutip pada Rabu (2/4/2025).
Merespons tantangan abad ke-21, dosen Departemen Arsitektur ITS ini menggali lebih dalam kajiannya untuk merumuskan teori arsitektur yang tidak hanya memiliki gagasan kuat tetapi juga mampu memprediksi perkembangan di masa depan.
Hasil kajiannya menegaskan bahwa manusia berperan sebagai pengendali dan pengintegrasi utama dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk arsitektur.
Secara lebih spesifik, dalam aspek alam, Murni menjelaskan bahwa manusia harus mampu menciptakan dan menggunakan bangunan dengan seminimal mungkin merusak lingkungan serta mempertimbangkan kesejahteraan penghuni.
“Selain itu, dalam merancang bangunan, manusia harus dapat mengangkat kelokalan sebagai bagian penting dalam arsitektur,” tutur Profesor ke-216 ITS ini.
Sementara dalam aspek teknologi, lanjutnya, manusia harus mampu menciptakan dan mengendalikan teknologi sebagai alat pembangunan yang mendukung arsitektur yang fungsional.
Dekan Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian (FTSPK) ITS periode 2020-2024 ini menekankan bahwa teknologi juga harus berkontribusi dalam upaya pelestarian alam dan penyelamatan planet.
Selain itu, sensitivitas kemanusiaan juga menjadi faktor penting dalam arsitektur yang bernilai. Perempuan kelahiran Rembang itu menegaskan bahwa arsitektur dapat mengusung budaya dan sejarah untuk membentuk identitas yang kuat.
“Aspek kemanusiaan dalam arsitektur ikut berperan dalam pembentukan kualitas hidup manusia yang berkesinambungan,” tegasnya.
Dengan mengintegrasikan ketiga aspek tersebut, Murni yakin bahwa tantangan dalam perkembangan ilmu arsitektur dapat diatasi. Selain itu, tujuan arsitektur berkelanjutan juga dapat tercapai.
“Namun, untuk mencapai ini semua diperlukan manusia yang mampu menjaga dan merawat alam sebagai sesama ciptaan Tuhan,” ujarnya.
Perempuan kelahiran 1962 ini menyoroti bahwa krisis global terjadi karena manusia belum mampu menghubungkan dampak kemajuan dengan nilai spiritual.
Oleh karena itu, ia menilai bahwa pendidikan dengan pendekatan spiritual menjadi langkah strategis untuk membentuk manusia yang memiliki pendirian dan integritas kuat.
Melalui pendekatan ini, manusia akan berpikir lebih jauh sebelum mengambil tindakan yang dapat merusak alam.
Sebagai hasil dari kajiannya, Murni turut berkontribusi dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 9 mengenai kota serta permukiman berkelanjutan.
Ia berharap teori yang dihasilkannya dapat bermanfaat tidak hanya bagi perkembangan ilmu arsitektur tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya di dunia pendidikan dan kebijakan publik.
“Semoga kajian ini dapat menghadirkan solusi tepat guna sesuai tujuan keberlanjutan,” tutupnya. (*/Hum/B1)