Bicaraindonesia.id, Malang – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menyerahkan 46 Sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia Tahun 2025 dalam kegiatan yang digelar di Taman Krida Budaya Malang, Minggu (22/2/2026).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menuturkan bahwa penetapan WBTB bukan sekadar pengakuan administratif, melainkan amanah untuk memastikan praktik budaya tersebut tetap lestari, berkembang, dan diwariskan kepada generasi penerus.
“Warisan budaya harus terus tumbuh dan memberi manfaat sosial serta ekonomi bagi masyarakat. Dengan demikian, budaya menjadi identitas sekaligus kekuatan pembangunan Jawa Timur,” ujar Gubernur Khofifah dalam keterangan persnya dikutip pada Rabu (25/2/2026).
Penyerahan 46 Sertifikat WBTB tersebut, dilakukan dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, selanjutnya diserahkan kepada para Bupati dan Wali Kota penerima. Ke-46 WBTB tersebut meliputi berbagai ekspresi budaya, seni pertunjukan, tradisi, dan kuliner khas dari kabupaten/kota di Jawa Timur.
Di antaranya Batik Ghentongan Tanjung Bumi (Kabupaten Bangkalan), Angklung Banyuwangi (Kabupaten Banyuwangi), dan Oklik (Kabupaten Bojonegoro).
Selain itu, Kupat Keteg (Kabupaten Gresik), Sego Boran (Kabupaten Lamongan), Labuhan Sarangan (Kabupaten Magetan), Bantengan Lereng Semeru (Kabupaten Malang), Wayang Krucil Sriguwak (Kabupaten Ngawi), Kaweng Tengger (Kabupaten Pasuruan), hingga Tari Gambuh Sumenep (Kabupaten Sumenep).
Kemudian juga ada Batik Tenun Gedhog Tuban (Kabupaten Tuban), Jaranan Sentherewe (Kabupaten Tulungagung), Seni Sanduk (Kota Batu), Tahu Takwa (Kota Kediri), Ketan Kratok (Kota Probolinggo), serta Lontong Balap (Kota Surabaya).
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Khofifah juga menyerahkan apresiasi kepada 100 seniman dan pelaku budaya, serta tunjangan kehormatan kepada 20 Juru Pelihara Cagar Budaya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Takjil Ramadhan yang berlangsung pada 18 Februari hingga 17 Maret 2026 dan diikuti 250 stan UMKM dari wilayah Malang Raya.
Gubernur Khofifah menegaskan, Ramadan tidak hanya menjadi ruang penguatan spiritual, tetapi juga momentum menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkokoh identitas budaya daerah.
“Ekonomi rakyat harus terus bergerak dan budaya harus terus hidup. Keduanya adalah fondasi penting dalam membangun Jawa Timur yang tangguh dan berdaya saing,” ujarnya.
Selain penyerahan sertifikat WBTB, apresiasi kepada 100 perwakilan seniman atau pelaku budaya diberikan untuk berbagai cabang seni tradisi, antara lain Seni Topeng, Tari, Ludruk, Bantengan, Jaranan, dan seni tradisi lainnya. Masing-masing menerima apresiasi sebesar Rp1.000.000.
Tunjangan Kehormatan juga diserahkan kepada 20 Juru Pelihara Cagar Budaya yang selama ini merawat masjid kuno, candi, serta berbagai situs peninggalan sejarah di Jawa Timur.
Masing-masing menerima tali asih sebesar Rp1.500.000 sebagai bentuk dukungan atas peran strategis mereka dalam menjaga warisan sejarah dan identitas daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, menyampaikan, sepanjang tahun ini Pemprov Jatim memberikan apresiasi kepada total 640 orang. Terdiri dari 500 pelaku budaya/seniman dan 100 Juru Pelihara Cagar Budaya.
Menurutnya, besaran apresiasi tahun ini juga meningkat dibanding tahun sebelumnya sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka menjaga khazanah budaya Jawa Timur.
“Tahun ini besarannya meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini menjadi wujud perhatian dan keberpihakan Ibu Gubernur terhadap para pegiat budaya di Jawa Timur,” katanya. (*/Pr/C1)

Tinggalkan Balasan