Oleh: Andy S
Founder Bicaraindonesia.id
Journalist – Consultant and Media Analyst
Setiap Ramadan, lini masa media sosial kita berubah wajah. Ucapan selamat berpuasa berseliweran, kutipan ayat dan hadis dibagikan, jadwal imsakiyah diunggah ulang, hingga foto-foto buka bersama memenuhi beranda. Secara kasat mata, ruang digital tampak lebih religius.
Namun pertanyaannya: apakah suasana itu benar-benar mencerminkan peningkatan akhlak, atau sekadar perubahan dekorasi virtual yang bersifat musiman?
Ramadan sejatinya adalah bulan latihan. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, menjaga lisan, dan membersihkan niat. Di masa lalu, ujian itu mungkin lebih sederhana: bagaimana kita berbicara kepada orang lain, bagaimana kita bersikap di ruang publik.
Kini, dengan kehadiran media sosial, ujian tersebut meluas ke ruang digital yang nyaris tanpa batas. Lisan telah bertransformasi menjadi jari-jemari, dan percakapan bergeser menjadi unggahan serta komentar.
Di era digital, satu klik dapat menyebarkan informasi ke ribuan orang dalam hitungan detik. Di sinilah integritas diuji. Berapa banyak dari kita yang membagikan sebuah kabar tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu? Hoaks kerap dibungkus dengan narasi agama atau sentimen emosional agar lebih mudah dipercaya. Ironisnya, di bulan yang mengajarkan kejujuran dan kehati-hatian, masih saja ada yang tergoda menjadi mata rantai penyebaran informasi palsu.
Padahal, puasa bukan hanya menahan apa yang masuk ke tubuh, melainkan juga menyaring apa yang keluar dari diri, termasuk informasi. Jika kita begitu berhati-hati memastikan makanan halal dan bersih, mengapa tidak berhati-hati memastikan berita yang kita sebarkan juga benar dan tidak menyesatkan? Integritas digital menuntut disiplin yang sama: verifikasi sebelum berbagi, berpikir sebelum berkomentar.
Ujian berikutnya adalah ujaran kebencian. Media sosial sering menjadi arena perdebatan panas, terutama terkait isu politik, agama, atau perbedaan pandangan. Ramadan seharusnya menjadi momentum meredakan ego dan memperhalus tutur kata. Namun kenyataannya, sebagian orang tetap mudah terpancing, melontarkan hinaan, bahkan mengatasnamakan kebenaran demi membenarkan amarahnya.
Kita sering lupa bahwa komentar di kolom media sosial memiliki dampak nyata. Di balik layar ada manusia dengan perasaan dan martabat. Menahan diri untuk tidak membalas provokasi adalah bentuk puasa yang lebih berat, tetapi justru di situlah kualitas spiritual diuji. Apa artinya menahan lapar belasan jam jika pada saat yang sama kita melukai orang lain dengan kalimat yang tajam?
Selain hoaks dan kebencian, fenomena lain yang mengemuka adalah pamer ibadah. Dokumentasi tarawih, tadarus, hingga sedekah bukanlah sesuatu yang salah secara mutlak. Media sosial memang ruang berbagi. Namun batas antara berbagi inspirasi dan mencari validasi sering kali tipis. Ketika ibadah lebih sibuk difoto daripada dihayati, kita patut bertanya: untuk siapa semua itu dilakukan?
Ramadan mengajarkan tentang keikhlasan, sebuah dimensi yang tidak selalu terlihat dan tidak membutuhkan tepuk tangan. Dalam konteks digital, menjaga keikhlasan berarti berani tidak mengunggah segalanya. Ada ibadah yang cukup diketahui oleh diri sendiri dan Tuhan. Di tengah budaya “eksis atau tidak dianggap ada”, memilih untuk diam justru bisa menjadi bentuk keberanian spiritual.
Lebih jauh lagi, etika digital selama Ramadan seharusnya tidak berhenti pada larangan. Ia juga membuka peluang untuk kebaikan. Media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan informasi yang bermanfaat, memperkuat solidaritas, menggalang bantuan sosial, atau sekadar menyampaikan pesan yang menenangkan. Teknologi pada dasarnya netral; manusialah yang menentukan arahnya.
Pertanyaannya kemudian: apakah puasa kita tercermin dalam jejak digital? Jejak digital bersifat abadi. Apa yang kita tulis hari ini bisa muncul kembali bertahun-tahun kemudian. Jika Ramadan adalah bulan evaluasi diri, maka salah satu indikatornya bisa dilihat dari riwayat unggahan dan komentar kita. Apakah ia mencerminkan kesabaran, kejujuran, dan empati? Ataukah justru sebaliknya?
Integritas di era digital bukan perkara mudah. Algoritma media sosial sering memicu emosi karena konten yang memancing amarah atau sensasi lebih cepat menarik perhatian. Namun justru di tengah godaan itulah nilai puasa menemukan relevansinya. Menahan diri untuk tidak terpancing, tidak ikut arus kebencian, dan tidak mencari pengakuan adalah bentuk jihad personal yang kontekstual dengan zaman.
Ramadan seharusnya tidak hanya mengubah pola makan dan jam tidur, tetapi juga cara kita bermedia sosial. Jika setelah sebulan penuh kita mampu menjaga etika digital, tidak menyebar hoaks, menahan ujaran kebencian, dan menjaga keikhlasan, maka puasa telah menembus dimensi yang lebih substansial. Ia tidak berhenti di perut, melainkan menyentuh karakter.
Pada akhirnya, integritas adalah tentang konsistensi antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dilakukan, baik di dunia nyata maupun di ruang maya. Ramadan memberi kita kesempatan untuk menyelaraskan keduanya. Karena di era digital ini, akhlak bukan hanya terlihat dari bagaimana kita berbicara, tetapi juga dari apa yang kita unggah, bagikan, dan komentari.
Maka, sebelum menekan tombol “kirim”, mungkin kita perlu bertanya sejenak: apakah ini sejalan dengan semangat puasa yang sedang saya jalani? Jika jawabannya ragu, menahan diri bisa jadi adalah pilihan paling bijak. (*)

Tinggalkan Balasan