Bicaraindonesia.id, Surabaya – Ribuan prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut (TNI AL) menyatakan kesiapan mendukung Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam memberantas premanisme demi menjaga keamanan dan ketertiban kota.
Komitmen tersebut disampaikan dalam acara “Doa Bersama Lintas Agama dan Deklarasi Surabaya Bersatu” yang digelar di Halaman Balai Kota Surabaya, Rabu (31/12/2025). Kegiatan ini diikuti sekitar 2.500 peserta dari 76 organisasi kemasyarakatan (ormas), kelompok masyarakat, serta organisasi mahasiswa.
Dalam kesempatan itu, Wakil Komandan Pasmar 2 Brigjen TNI (Mar) Arinto Beny Sarana mengatakan bahwa mewujudkan Kota Surabaya yang aman dan nyaman, merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, bukan hanya aparat keamanan.
“Jadi tugas kita bersama di sini mewujudkan Kota Surabaya nyaman, aman, dan tertib. Bukan tugasnya TNI-Polri saja, tapi seluruh komponen bangsa, khususnya arek-arek Surabaya yang (ada) di Surabaya ini,” kata Beny dalam sambutannya.
Ia menegaskan, Korps Marinir siap mendukung langkah tegas Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam memberantas premanisme.
“Tentunya kita akan mendukung tujuan mulia dari Bapak Wali Kota (Eri Cahyadi) untuk memberantas premanisme. Jangan ragu-ragu Pak Wali, kalau membutuhkan pasukan kita siap menjaga keamanan di Kota Surabaya,” tegasnya.
Beny juga menuturkan bahwa sebanyak 10.000 prajurit Korps Marinir siap digerakkan untuk membantu menjaga kondusivitas Kota Pahlawan.
“Ada 10 ribu prajurit saya yang tergelar di sini. Jadi silakan Pak Wali, kita bersama-sama komponen dan elemen seluruh masyarakat Surabaya, mewujudkan Kota Surabaya nyaman, aman, tertib, bukan hanya bagi warga Surabaya, tapi bagi para pengunjung pun ikut nyaman kalau hadir di Surabaya,” tuturnya.
Di waktu yang sama, Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan bahwa Surabaya dibangun atas dasar persatuan, nilai agama, dan Pancasila. Sehingga tidak boleh ada ruang bagi praktik premanisme.
“(Kota) kita dibangun bukan karena agama kita apa, suku kita apa, tapi kita harus menjaga Kota Surabaya ini. Tapi pastikan tidak ada premanisme di Kota Surabaya. Warga Surabaya harus melawan ketika ada premanisme,” kata Eri.
Karena itu, Eri juga meminta masyarakat untuk berani melaporkan setiap bentuk intimidasi atau tekanan yang dialami.
“Surabaya adalah rumah kita. Yang merasa diintimidasi, siapapun yang merasa ditekan, tolong sampaikan hari itu juga kita akan ambil premanisme itu dari Kota Surabaya,” tandasnya. (*/An/A1)

Tinggalkan Balasan