Bicaraindonesia.id, Klaten – Program internet gratis yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mulai membuahkan hasil konkret di kawasan wisata terpencil. Salah satunya di Desa Wisata Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, yang kini terbebas dari wilayah blankspot setelah bertahun-tahun tanpa akses internet.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Tengah, Agung Hariyadi, mengatakan pemasangan internet gratis merupakan upaya pemerintah memperluas akses digital hingga ke pelosok.
“Internet tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga motor penggerak perekonomian dan pelayanan publik di era digital,” ujar Agung dalam keterangan tertulis dikutip pada Sabtu (4/10/2025)
Agung menjelaskan, program internet gratis diprioritaskan pada empat kategori desa, yaitu blankspot, desa wisata, desa dengan kemiskinan ekstrem, serta desa rawan bencana. Untuk desa wisata, jaringan internet diharapkan mampu memperluas promosi destinasi serta meningkatkan daya saing produk UMKM lokal di pasar global.
Hingga kini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah telah memfasilitasi jaringan internet di 866 titik desa blankspot. Pada 2025 saja, tercatat 327 desa telah mendapatkan layanan ini, meliputi 195 desa blankspot, 50 desa wisata, 50 desa miskin ekstrem, dan 32 desa rawan banjir.
Gubernur Ahmad Luthfi menargetkan seluruh wilayah blankspot di Jawa Tengah terhubung internet pada 2029.
Agung menambahkan, di Kabupaten Klaten sudah ada beberapa desa yang menerima fasilitas internet Pemprov Jateng. Di antaranya Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, serta empat desa wisata yaitu Balerante, Tegalmulyo, Sidowayah, dan Grundul.
“Harapannya, masyarakat tidak hanya melek digital, tetapi juga mampu memanfaatkan internet untuk meningkatkan kesejahteraan,” kata Agung.
Akses internet publik di titik-titik tersebut menggunakan perangkat Wi-Fi outdoor berkapasitas 20 Mbps, tanpa kata sandi, dengan nama jaringan “JatengNgopeniNglakoni”.
Penyedia layanan internet, Zizik Mudiono, mengungkapkan pemasangan jaringan di kawasan wisata Balerante cukup menantang. Timnya harus menarik kabel fiber optik sejauh 5 kilometer dan menambah 11 tiang baru agar sinyal menjangkau lokasi wisata Kalitalang.
“Prosesnya memakan waktu sekitar 15 hari, jauh lebih lama dibandingkan pemasangan normal yang biasanya selesai dalam satu hari,” tuturnya.
Zizik menambahkan, jaringan berkapasitas 20 Mbps itu memiliki radius layanan sekitar 150 meter. Meskipun medan sulit, dukungan masyarakat sekitar sangat besar.
“Begitu internet menyala, UMKM di sini mulai hidup. Pengunjung bisa membayar nontunai lewat QRIS, promosi wisata lewat Instagram, TikTok, dan YouTube juga lebih lancar,” katanya.
Ketua Pengelola Wisata Kalitalang, Jainu, mengatakan kehadiran internet mengubah perilaku pengunjung, terutama generasi muda yang kini terbiasa bertransaksi digital.
“Anak-anak muda sekarang datang hanya membawa HP. Begitu ditanya bisa bayar QRIS atau tidak, kalau penjelasannya tidak bisa, mereka langsung pergi. Setelah ada Wi-Fi, kondisinya berubah,” ujarnya.
Berdasarkan data pengelola, jumlah kunjungan wisata Kalitalang naik signifikan dari 59.000 orang pada 2024 menjadi 125.000 pengunjung hingga September 2025. Rata-rata kunjungan harian mencapai 200–300 orang pada hari kerja dan melonjak hingga 1.700 orang di akhir pekan.
“Wisatawan betah lebih lama, mampir ke warung, tambah kopi, tambah makan. Dampaknya terasa sekali bagi warga,” kata Jainu.
Selain mendorong ekonomi lokal, internet juga membantu pengelolaan kawasan wisata yang berada di lereng Merapi tersebut. Melalui jaringan Wi-Fi, masyarakat bisa mengakses informasi terkini dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang diperbarui setiap enam jam.
“Kalau ada kondisi darurat, kami bisa cepat menginformasikan kepada pengunjung,” pungkasnya. (*/Pr/C1)

Tinggalkan Balasan