Bicaraindonesia.id, Jakarta Operasi keamanan yang dijalankan oleh TNI-Polri di Papua, tidak lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional atau manual. Tetapi juga didukung oleh penggunaan teknologi.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, penggunaan teknologi saat operasi diperlukan untuk memaksimalkan tugas di lapangan. Salah satunya saat membedakan antara warga sipil dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

“Teknologi tentunya pasti kami gunakan, sehingga kemudian kami juga betul-betul meminimalisir yang kami hadapi ini kelompok masyarakat atau kelompok kriminal bersenjata,” kata Kapolri dalam keterangan di Jakarta, seperti dikutip pada Kamis, 6 Desember 2023.

Baca Juga:  Kapolri Launching Direktorat PPA-PPO di 11 Polda dan 22 Polres

Menurut Kapolri, penggunaan teknologi sangat penting saat menjalankan operasi keamanan di Papua. Tetapi, Polri dan TNI mengedepankan upaya diplomasi dalam menyelesaikan persoalan di Bumi Cendrawasih.

“Kami tetap mengimbau dengan konsep-konsep diplomasi yang kami miliki untuk bagaimana kami sama-sama menjaga mereka (KKB) menjadi satu di dalam lingkup NKRI,” ujar Kapolri.

Kapolri mengungkapkan bahwa Polri menjalankan dua operasi di Papua. Yakni operasi yang bersifat soft, lewat diplomasi dan operasi yang bersifat hard atau menggunakan penegakan hukum.

Ia menyebut operasi soft approach tersebut adalah operasi yang dilakukan untuk mengawal program-program terkait dengan pembangunan di Papua. Yakni bagaimana mensejahterakan masyarakat Papua, meningkatkan sumber daya manusia dan pembangunan infrastruktur.

Baca Juga:  Divhubinter Polri Tangkap WNI Terkait TPPO Warga Rohingya

Kemudian terkait keberadaan KKB di Papua, Polri dan TNI menggunakan operasi penegakan hukum agar pembangunan di Papua tidak terganggu. ***

Editorial: A1
Source: Hum/Polri