Bicaraindonesia.id, Surabaya Upaya pelestarian mangrove di pesisir Kota Surabaya kembali mendapat perhatian nasional. Dalam kegiatan penanaman mangrove, pengamat politik Rocky Gerung bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini menegaskan bahwa mangrove memiliki peran strategis sebagai benteng alami kota dalam menghadapi ancaman bencana dan krisis lingkungan.

Rocky Gerung menilai penanaman mangrove bukan sekadar kegiatan simbolik, melainkan langkah nyata melawan kerusakan lingkungan akibat keserakahan ekonomi. Ia menekankan bahwa kawasan hijau di Surabaya memiliki nilai ekologis sekaligus nilai peradaban yang harus dijaga bersama.

“Kita bukan sekadar menanam pohon, tetapi membersihkan paru-paru bumi, membersihkan paru-paru Surabaya yang dikotori oleh keserakahan, oleh kerakusan ekonomi,” ujar Rocky di Surabaya, Sabtu (17/1/2026).

Baca Juga:  Tak Cuma Cetak Juara, KONI Jatim Siapkan Atlet Jadi Pengusaha

Menurut Rocky, mangrove menjadi bagian penting dari upaya menjadikan Surabaya sebagai kota yang berkontribusi besar terhadap penghijauan bumi. Ia bahkan menyampaikan gagasan simbolik agar kawasan mangrove menjadi ruang publik yang sarat pesan ekologis dan kesadaran lingkungan.

“Saya ingin mengundang mereka yang ingin menikah, menikahlah di sini. Yang mau bercerai, bercerailah di sini. Tapi dengan syarat, pengantin pria menanam pohon, pengantin perempuan menyiram setiap minggu. Kalau bercerai, dua-duanya harus menambah dua kali lipat,” katanya.

Ia menegaskan bahwa menjaga keharmonisan rumah tangga sejalan dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup. “Bumi adalah rumah tangga umat manusia,” imbuhnya.

Sementara itu, Tri Rismaharini menekankan pentingnya penguatan status hukum kawasan mangrove di Surabaya agar tidak mudah dialihfungsikan. Menurutnya, mangrove harus dilindungi secara permanen karena fungsinya sangat vital bagi keselamatan kota.

Baca Juga:  Pemprov Jatim Buka Mudik Gratis 2026, Cek Jadwal dan Rutenya

“Dengan ditetapkan sebagai kebun raya, kekuatan hukumnya lebih tinggi. Artinya, tidak ada siapa pun yang bisa mengubah peruntukan kawasan ini,” kata Risma.

Risma menjelaskan mangrove berfungsi sebagai zona penyangga sekaligus benteng pertahanan alami Kota Surabaya dari berbagai ancaman bencana yang datang dari laut. “Ini adalah natural sea wall, benteng alami kota,” ujarnya.

Selain sebagai pelindung dari bencana, kawasan mangrove juga berperan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut dan sumber pangan masyarakat pesisir. Mangrove menjadi tempat berpijah berbagai biota laut seperti ikan dan udang, sekaligus menyaring limbah berbahaya.

“Akar-akar mangrove menjaga dari kerusakan akibat limbah, terutama limbah B3, yang bisa berdampak pada kesehatan manusia,” katanya.

Baca Juga:  130 Ribu Kursi Kereta Arus Mudik 2026 Masih Tersedia di Daop 8 Surabaya

Terkait potensi bencana besar seperti tsunami, Risma mengungkapkan pengalamannya saat menerima penghargaan di Phuket, Thailand. Ia menyebut adanya kawasan yang selamat dari terjangan tsunami Aceh karena terlindung oleh vegetasi pesisir.

“Bangunan semi permanen di sana masih utuh karena terlindung pepohonan. Itu kemudian ditetapkan sebagai kawasan hutan perlindungan nasional,” ujarnya.

Risma meyakini bahwa penguatan dan pelestarian mangrove di seluruh wilayah pesisir Indonesia tidak hanya memberikan perlindungan dari bencana alam, tetapi juga menjaga kualitas dan keberlanjutan sumber protein masyarakat.

“Bukan hanya kita terlindungi dari bencana, tetapi kualitas ikan dan sumber pangan laut kita juga terjaga,” pungkas Risma. (*/Dap/A1)