Bicaraindonesia.id, Surabaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menegaskan relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke kawasan Tambak Osowilangun (TOW) tetap dilaksanakan sesuai rencana.

Kebijakan ini berjalan meskipun mendapat penolakan dari sebagian mitra jagal dan penjual daging yang sempat menggelar aksi demonstrasi di Balai Kota Surabaya.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Sekretaris Daerah (Setda) Kota Surabaya, M Fikser, mengatakan relokasi RPH Pegirian merupakan bagian dari program penataan kota yang telah dirancang sejak 2016 dan tertuang dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.

Menurut Fikser, kawasan Pegirian yang sebelumnya berada di pinggiran kota kini berkembang menjadi pusat aktivitas perkotaan, sehingga perlu dilakukan penataan ulang agar lebih sesuai dengan fungsi wilayah.

“Program ini bukan keputusan mendadak. Sudah direncanakan sejak lama sebagai bagian dari penataan kota, termasuk kawasan Religi. Pemerintah kota tetap menghormati aspirasi para jagal, namun proses relokasi akan terus berjalan dengan pendekatan dialog dan diskusi,” ujar Fikser usai audiensi bersama para mitra jagal di Balai Kota Surabaya, Senin (12/1/2026).

Baca Juga:  Angka Perceraian di Surabaya 2025 Capai 6.080 Kasus, Cerai Gugat Dominan

Fikser menjelaskan, relokasi RPH Pegirian direncanakan mulai efektif setelah IdulFitri 2026. Pemkot Surabaya telah menyiapkan sejumlah solusi untuk menjawab keberatan para jagal, salah satunya dengan menyediakan armada pengangkut daging dari TOW menuju Pasar Daging Arimbi di kawasan Pegirian.

Ia menegaskan, kebijakan relokasi hanya berlaku untuk lokasi pemotongan hewan, sementara Pasar Daging Arimbi tetap beroperasi di tempat semula.

“Isu jarak dan kesiapan tempat sudah kami jawab. Pemkot menyiapkan armada khusus pengangkut daging, serta pengaturan ulang jam operasional pemotongan agar distribusi ke Pasar Arimbi tetap tepat waktu,” katanya.

Baca Juga:  Jawa Timur Jadi Provinsi dengan Sekolah Rakyat Terbanyak se-Indonesia

Sementara itu, Direktur Utama PT RPH Surabaya Perseroda, Fajar Isnugroho, memastikan ketersediaan daging sapi di Surabaya tetap aman meskipun sempat terjadi aksi mogok pemotongan di RPH Pegirian. Ia menyebut kebutuhan daging sapi di Surabaya mencapai sekitar 40 ton per hari, dengan sekitar 20 ton dipasok dari RPH Surabaya.

“Kami masih mengoperasikan RPH unit Kedurus. Stok daging aman, masyarakat tidak perlu panik. Daging juga tersedia melalui Surya Mart dan 11 outlet pasar tradisional,” ujar Fajar.

Fajar menambahkan, Mitra Jagal Pegirian masih diberi kesempatan memanfaatkan RPH Pegirian hingga akhir masa IdulFitri. Selama periode Januari hingga Maret 2026, operasional pemotongan dilakukan secara paralel di RPH Pegirian dan TOW untuk memastikan kesiapan teknis, termasuk sertifikasi halal dan penyempurnaan fasilitas.

“Setelah Lebaran, pemotongan akan dimaksimalkan di TOW. Fasilitas di TOW lebih modern, kapasitasnya setara bahkan lebih representatif dibanding Pegirian, yang usianya sudah hampir seabad,” kata Fajar.

Baca Juga:  SMA Taruna Nusantara Malang Diresmikan, Fokus Penguatan Iptek dan Karakter

Fajar mengakui penolakan sebagian jagal dipicu faktor jarak lokasi RPH yang baru. Namun, Pemkot Surabaya telah menawarkan solusi berupa transportasi khusus dari TOW ke Pegirian untuk menjaga kelancaran distribusi daging kepada konsumen.

“Ini bukan untuk membela kepentingan jagal, tapi untuk melindungi konsumen. Warga Surabaya tidak boleh dirugikan akibat relokasi,” ujarnya.

Menanggapi potensi mogok berkepanjangan, Fajar menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hak para jagal. Namun demikian, RPH Surabaya sebagai penyedia jasa tetap akan menjalankan skema kerja sama dengan mitra yang bersedia mengikuti kebijakan relokasi.

“Prinsipnya, pemanfaatan TOW akan tetap berjalan setelah Idul Fitri. Ruang dialog masih terbuka, tetapi arah kebijakan sudah jelas,” tandasnya. (*/Dap/A1)