Bicaraindonesia.id, Surabaya – Sebanyak lebih dari 300 sekolah tingkat SD dan SMP di Surabaya meramaikan gelaran Grand Tournament Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) Goes To School 2025 yang diselenggarakan oleh Moonton Games.
Ajang esport pelajar ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan digelar di Atrium Tunjungan Plaza 3 pada tanggal 8-11 Januari 2025.
Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games, Erina Tan, mengaku bangga dengan tingginya antusiasme sekolah dan tenaga pendidik di Jawa Timur, khususnya Surabaya. Ia menyebut jumlah guru yang tergabung sebagai Teacher Ambassador terus mengalami peningkatan signifikan.
“Kita mulai dari hanya 50 guru, dan sekarang sudah berkembang menjadi 328 guru di Surabaya dan sekitarnya (Sidoarjo, Gresik, Jombang, Kediri, Malang, dan Mojokerto). Peran guru sangat krusial untuk memastikan esport berjalan selaras dengan nilai pendidikan,” ungkap Erina.
Ia menambahkan bahwa Moonton berkomitmen membangun ekosistem esport yang aman, terstruktur, dan berorientasi pada pendidikan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa minat anak-anak bisa diarahkan menjadi aktivitas yang bermanfaat tanpa harus mengesampingkan pendidikan formal,” jelasnya.
Melalui keterlibatan ratusan sekolah dan guru pendamping, Erina berharap para siswa peserta turnamen dapat tumbuh menjadi inspirasi, tidak hanya sebagai pemain gim, tetapi juga sebagai individu yang berkarakter.
“Kepada para guru dan pihak sekolah, kami mengucapkan terima kasih atas peran, dedikasi, dan kepercayaan yang diberikan. Kalian adalah pelopor dan tonggak terpenting dalam membentuk dan mengarahkan program ini,” ujarnya.
Program MLBB Goes To School 2025 melibatkan siswa dari lebih dari 300 sekolah di Surabaya dengan pendampingan Teacher Ambassador, yakni para guru yang telah dibekali pemahaman khusus untuk mengawasi dan membimbing aktivitas bermain game agar tetap terarah dan positif.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan turnamen ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi gim, tetapi juga sarana edukatif bagi pelajar. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara hobi bermain game dan kewajiban belajar.
“Saya ingin slogan itu benar-benar diresapi di dalam hati. Kalau tidak belajar, jangan boleh main bareng (mabar). Kami menitipkan pesan ini kepada bapak dan ibu guru untuk membantu pengawasan agar anak-anak kita tetap sehat dalam menggunakan gadget,” ujar Febri.
Menurutnya, melalui kompetisi ini para siswa dapat belajar berbagai nilai positif seperti sportivitas, kerja sama tim, disiplin, serta pengendalian emosi.
Febri berharap keterlibatan ratusan sekolah dapat menjadi fondasi kuat dalam membentuk karakter generasi muda di tengah perkembangan dunia esport.
“Kami berharap kegiatan ini dapat membentuk generasi muda yang berprestasi dan memiliki karakter baik, serta mampu menyeimbangkan antara akademik, minat, dan dunia esport. Ini adalah langkah awal menuju prestasi profesional, bahkan hingga ke tingkat SEA Games nantinya,” pungkasnya. (*/Pr/C1)

Tinggalkan Balasan