Bicaraindonesia.id, Surabaya Kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus mendorong lima pelajar SMP Negeri (SMPN) 1 Surabaya menciptakan inovasi teknologi ramah anak.

Terinspirasi dari tantangan komunikasi yang dialami anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), mereka mengembangkan NeuroAid, robot pendamping interaksi sosial untuk melatih kemampuan komunikasi dan pengenalan emosi.

Inovasi NeuroAid digagas oleh Kalila Zanetta Echaputri, Alya Prashanti Nur Rizqi Setiyono, Zahwa Aliyah Rahma, Afnan Daan Indrawan, dan Harley Fatahillah Yudhaloka Sunoto.

Berkat karya tersebut, tim pelajar SMPN 1 Surabaya ini berhasil meraih Gold Medal pada ajang Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2025.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, memberikan apresiasi tinggi atas prestasi para pelajar tersebut.

Menurutnya, NeuroAid bukan hanya karya ilmiah, melainkan cerminan keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan profil pelajar Pancasila.

Baca Juga:  Penjual Emas di Batu Jadi Korban Pencurian, Dua Tersangka Ditangkap

“Kami sangat bangga. Anak-anak SMPN 1 Surabaya ini menunjukkan bahwa teknologi di tangan yang tepat bisa menjadi solusi kemanusiaan,” ujar Yusuf Masruh dalam keterangan tertulis di Surabaya dikutip pada Senin, (29/12/2025).

“Mereka tidak hanya belajar koding atau merakit robot, tapi mereka belajar berempati terhadap sesama, khususnya pada anak-anak istimewa di sekolah inklusif kita,” imbuhnya.

NeuroAid dikembangkan berdasarkan riset bahwa terapi perilaku bagi anak autis membutuhkan biaya tinggi dan waktu panjang. Robot ini dirancang sebagai pendamping yang tenang, terstruktur, dan tidak memberikan tekanan pada anak.

Dengan desain ringkas dan portabel, NeuroAid mampu mengenali wajah, membaca ekspresi emosi dasar, serta memberikan respons suara dan visual yang mudah dipahami.

Baca Juga:  Muaythai Jatim Panaskan Mesin Menuju PON Bela Diri 2026

Yusuf menilai inovasi ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan inklusif di Surabaya. Ia melihat NeuroAid berpotensi besar menjadi alat bantu guru dalam menjembatani interaksi dengan siswa ASD di sekolah.

“Kelebihan NeuroAid ini adalah polanya yang konsisten dan dapat diprediksi. Bagi anak autis, konsistensi itu memberikan rasa aman. Saya melihat ini bisa menjadi alat bantu yang luar biasa untuk sekolah-sekolah inklusif di Surabaya agar anak-anak kita lebih berani berkomunikasi,” jelasnya.

Dalam pengembangannya, NeuroAid dilengkapi kamera dan mikrofon untuk menangkap respons anak. Para pelajar sengaja merancang sistem yang sederhana dan kontekstual dengan budaya lokal, berbeda dengan robot serupa buatan luar negeri yang cenderung mahal dan kompleks.

Ke depan, para siswa berharap NeuroAid dapat diterapkan di sekolah dan rumah sakit di Kota Surabaya. Harapan tersebut mendapat dukungan penuh dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

Baca Juga:  Aksi Kurve Sampah Pantai Surabaya Kumpulkan 2.785 Kg

“Harapan anak-anak ini sangat mulia. Tugas kami di Dinas Pendidikan sesuai arahan Bapak Wali Kota Eri Cahyadi adalah mengawal agar karya ini tidak berhenti di kompetisi saja. Kami akan coba kaji bagaimana inovasi ini bisa diimplementasikan secara bertahap di lingkungan sekolah,” terang Yusuf.

Menurut Yusuf, inovasi NeuroAid menjadi bukti bahwa dari ruang kelas di Surabaya dapat lahir solusi berbasis empati dan ilmu pengetahuan untuk masyarakat.

“NeuroAid ini menjadi bukti nyata bahwa sejak usia sekolah, para pelajar di Kota Surabaya telah mampu memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan masyarakat yang lebih inklusif dan peduli terhadap sesama,” pungkasnya. (*/Pr/C1)