Bicaraindonesia.id, Semarang Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah kembali menjalankan program transmigrasi 2025 dengan memberangkatkan 19 kepala keluarga (KK) atau 73 jiwa ke empat provinsi di Indonesia. Empat provinsi tujuan tersebut meliputi Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan.

Menariknya, para calon transmigran tidak hanya dilepas begitu saja. Sebelum berangkat ke yang kerap disebut sebagai “tanah harapan”, mereka telah dibekali beragam keterampilan praktis.

Sejumlah keterampilan itu mulai dari pertanian, peternakan, hingga perbaikan alat listrik dan rumah tangga. Langkah ini diambil untuk memastikan para transmigran siap hidup mandiri dan berkelanjutan di daerah tujuan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah Ahmad Azis menyampaikan, program transmigrasi tahun ini diikuti oleh 19 KK atau 73 jiwa. Lokasi tujuan meliputi Waleh, Kabupaten Halmahera Tengah (Maluku Utara); Torire, Kabupaten Poso (Sulawesi Tengah); Taramanu Tua, Kabupaten Polewali Mandar (Sulawesi Barat); serta Lagading, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sulawesi Selatan).

Baca Juga:  Polisi Bongkar Sindikat Penadah Motor Kreditan Lintas Provinsi

Peserta transmigrasi berasal dari 17 kabupaten/kota di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Semarang, Rembang, Kota Salatiga, Kabupaten Magelang, Batang, Blora, Pekalongan, Klaten, Sragen, Pemalang, Kota Tegal, Kabupaten Grobogan, Demak, Kebumen, Purworejo, Kota Surakarta, dan Kota Semarang.

“Mereka disaring dari sekitar 400 KK atau 1.600 jiwa, yang mendaftar sebagai calon transmigran pada 2025,” kata Azis dalam keterangannya dikutip pada Rabu (17/12/2025).

Azis menjelaskan, setelah melalui proses seleksi ketat, para peserta mendapatkan berbagai pelatihan keterampilan. Materi pelatihan meliputi budidaya pertanian, perbaikan alat rumah tangga, kelistrikan, pertukangan, kerajinan tangan, hingga pembekalan kedisiplinan.

Menurut dia, program ini sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang mendorong penguatan pelatihan keterampilan masyarakat, termasuk melalui program zilenial sebagai bekal hidup jangka panjang.

Baca Juga:  Tawur Agung 2026 di Candi Prambanan Diperkirakan Dihadiri 35 Ribu Umat

“Mereka diberikan lahan usaha beserta pekarangan seluas satu hektare. Ada juga bantuan dari UPZ, perbenihan, serta pelatihan dasar di balai latihan kerja (BLK) kami, mulai dari pertanian, peternakan, hingga perbaikan alat rumah tangga,” jelasnya.

Tak hanya itu, pada tahun pertama para transmigran juga memperoleh jatah hidup (jadup) berupa kebutuhan pokok, sambil menunggu hasil dari lahan yang dikelola mulai produktif.

Pemprov Jateng berharap para transmigran mampu menata kehidupan baru yang lebih mandiri dan sejahtera di wilayah tujuan.

Salah satu calon transmigran, Sri Parwiti asal Kabupaten Pekalongan, akan berangkat bersama suaminya Andi Suprapto dan empat anak menuju Taramanu Tua, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Ia mengaku keinginan mengikuti program transmigrasi sudah muncul sejak tiga tahun lalu.

“Senang sekali, ini mimpi kami. Kami mendaftar sejak 2022, bahkan sempat berpindah ke daerah lain, tapi tidak ada kuota. Kemudian kami kembali ke Jawa Tengah. Alhamdulillah, baru satu tahun sudah dipanggil,” ujar Parwiti

Baca Juga:  Tawur Agung 2026 di Candi Prambanan Diperkirakan Dihadiri 35 Ribu Umat

Menurut Parwiti, transmigrasi menjadi jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Ia dan suami berkomitmen bekerja keras serta memanfaatkan fasilitas pemerintah agar kehidupan di tempat baru lebih sejahtera.

Di daerah tujuan, keluarganya akan memperoleh lahan satu hektare, rumah tinggal, serta jaminan kebutuhan hidup selama satu tahun.

Cerita serupa datang dari Rosalia, transmigran asal Kabupaten Grobogan. Ia memilih pindah pulau demi masa depan keluarga yang lebih baik.

“Ingin menjadi lebih baik, bisa menyekolahkan anak untuk masa depan. Sebelum berangkat, kami dilatih oleh pemerintah provinsi, mulai dari keterampilan bercocok tanam hingga kerajinan tangan,” ungkap dia. (*/Hms/C1)