BicaraIndonesia.id, Jakarta Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan bahwa Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong upaya bersama dalam mendukung perdagangan yang seimbang dengan kebutuhan adaptasi dan mitigasi iklim.

Peran perdagangan penting untuk memberikan akses terhadap tersedianya produk, bahan baku, dan teknologi, serta jasa yang diperlukan dalam mendukung perdagangan hijau dan berkelanjutan.

Ia pun menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antar kementerian untuk membangun kebijakan di level nasional yang seirama dan kondusif.

Hal ini disampaikan saat membuka dialog kebijakan tingkat tinggi, yaitu High Level Policy Dialogue –Action on Climate dan Trade (ACT) di Jakarta, pada Senin 4 November 2024.

Baca Juga:  Jakarta Ramadan Festival 2026 Resmi Dibuka, Diskon Belanja hingga 70%

Penyelenggaraan kegiatan ini adalah hasil kerja sama Kemendag, Bank Dunia, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan Forum Ekonomi Dunia (WEF). High Level Policy Dialogue ACT ini merupakan rangkaian kegiatan ACT Final Workshop yang berlangsung pada 4-8 November 2024.

“Untuk mendorong perdagangan yang seimbang dengan kebutuhan adaptasi dan mitigasi iklim, harus ada upaya bersama yang didukung kebijakan dari semua pihak. Kolaborasi dan sinergi antar kementerian sangat penting untuk membangun suatu kebijakan yang seirama dan kondusif,” ungkap Mendag Budi.

Menurut Mendag Budi, High Level Policy Dialogue ini menjadi penting karena mendiskusikan prioritas masing-masing kementerian agar dapat sejalan dan mendukung visi Indonesia Emas 2045. Terutama untuk mengatasi adaptasi dan mitigasi perdagangan terhadap perubahan iklim.

Baca Juga:  Anggota DPR RI Minta Pemerintah Waspada Eskalasi Konflik Israel-AS dan Iran

”Indonesia memiliki visi menuju Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju dan berpendapatan tinggi dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Untuk itu, dukungan dan ekspansi sektor perdagangan sangat penting dalam mencapai tujuan tersebut,” urai Mendag Budi.

Namun demikian, Mendag Budi menyebut, isu geopolitik, geoekonomi, dan perubahan iklim menjadi tantangan tersendiri.

“Kita harus mampu mengubah tantangan menjadi peluang yang dapat memberikan nilai tambah dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Mendag Budi.

Mendag Budi juga menyampaikan, dalam menghadapi perubahan iklim, penting bagi Indonesia untuk memahami situasi yang dihadapi dan tujuannya di masa depan.

Baca Juga:  161 Ribu Personel Gabungan Dikerahkan dalam Operasi Ketupat 2026

Hal ini karena perubahan iklim akan berdampak terhadap berbagai sektor perdagangan.

Dengan demikian, Indonesia dapat merumuskan kebijakan yang tepat dan bermanfaat bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Indonesia harus mampu beradaptasi, memitigasi perubahan iklim, serta melindungi masyarakat dengan memberikan masa depan dan kualitas hidup yang lebih baik. Perdagangan adalah solusi untuk menyeimbangkan kebutuhan-kebutuhan tersebut,” tegas Mendag Budi. (*/Eki/A1)