Bicaraindonesia.id, Bali – PT PLN (Persero) dengan tiga perusahaan listrik asal Malaysia, Laos dan Thailand, membahas peluang adanya sistem interkoneksi listrik antar negara-negara Asia Tenggara.
Hal tersebut dibahas dalam ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM) ke-41 yang berlangsung di Bali pada Kamis, 24 Agustus 2023. Penjajakan awal ini dilakukan untuk mendukung dalam upaya menjaga ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara.
Empat perusahaan listrik dalam pertemuan AMEM kali ini adalah PLN (Indonesia), Tenaga Nasional Berhad (Malaysia), Electricite du Laos (Laos) dan Electricity Generating Authority of Thailand (EGAT).
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menjelaskan, sistem interkoneksi di ASEAN ini dapat membawa manfaat yang sangat besar bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
“Mimpi besar ASEAN Power Grid adalah bagaimana proyek ini dapat membawa kesejahteraan bagi negara-negara Asia Tenggara. Impian ini tentunya dapat dicapai melalui kolaborasi,” ujar Darmawan dalam siaran tertulisnya, seperti dikutip pada Sabtu, 26 Agustus 2023.
Interkoneksi ASEAN bukanlah hal yang baru bagi PLN. Sebelumnya, Indonesia dan Malaysia sudah membuat langkah agresif dengan menghubungkan sistem Kalimantan dengan Sarawak.
Selanjutnya, PLN juga akan melanjutkan kolaborasi dengan Tenaga Nasional Berhad untuk interkoneksi Sumatera-Semenanjung Malaysia dan kolaborasi dengan Sabah Electricity Sdn. Bhd untuk interkoneksi Kalimantan dengan Sabah.
Meski bukan hal yang asing, namun untuk mewujudkan sistem interkoneksi antar negara ini tidaklah mudah. Sebab, ada tantangan dari sisi kebijakan, teknis maupun komersil. Namun tantangan tersebut bisa ditangani apabila semua pihak mempunyai semangat yang sama.
“Pertanyaannya adalah bagaimana kita akan mewujudkan rencana ini. Kita membutuhkan suatu semangat kolaborasi, persatuan, dan kesejahteraan bersama,” terang Darmawan.
Darmawan menambahkan bahwa semangat untuk duduk bersama mewujudkan ketahanan energi di kawasan ASEAN merupakan langkah yang baik. Apalagi, ASEAN merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia yang cukup kuat.
“Pertemuan ini juga akan menguatkan hubungan antar negara ASEAN yang dahulu terfragmentasi menjadi satu kesatuan yang solid. Saya yakin dengan semangat kolaborasi ini, kita bisa menghadapi segala tantangan yang ada bersama-sama, hanya ada satu arah, yaitu maju,” tambahnya.
Sementara itu, President and Chief Executive Officer of Tenaga Nasional Berhad, Dato’ Indera Ir. Baharin menyambut baik kerja sama ini. Menurutnya, rencana interkoneksi sistem listrik ini merupakan peluang investasi ke depan.
Meski membutuhkan alokasi anggaran yang tak sedikit, namun dengan kolaborasi yang kuat maka bisa menjadi peluang yang menguntungkan bagi seluruh negara.
“Iklim investasi yang menarik, dan juga daya tarik secara pengembalian modal menjadi tantangan tersendiri. Meski memang model interkoneksi ini sukses diterapkan di Eropa. Peluang kolaborasi ini akan bisa ditingkatkan,” terang Baharin.
Hal yang sama juga disampaikan Managing Director of Electricite du Laos, Chanthaboun Soukaloune. Ia menyambut baik wacana membangun interkoneksi antar negara ASEAN.
Chanthaboun menjelaskan bahwa selama ini skema interkoneksi sudah bisa dijalankan oleh Laos. Proyek interkoneksi listrik Laos Thailand Malaysia Singapura (LTMS), menjadi salah satu contoh terjalinnya interkoneksi sistem kelistrikan.
“LTMS merupakan salah satu proyek kebanggan kami dan merupakan wujud terlaksananya interkoneksi listrik. Kami mengapresiasi kerja sama bilateral antar negara ini khususnya antara Laos dan Thailand yang telah berlangsung lebih dari 15 tahun ini. Kerja sama ini juga semakin memperat hubungan bilateral antar negara,” pungkasnya. ***
Pewarta: T1
Editorial: A1