Bicaraindonesia.id, Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus berupaya mengembangkan inovasi energi berkelanjutan melalui riset berbasis teknologi, termasuk pengembangan bensin biogasolin sebagai bagian dari dukungan terhadap ketahanan energi nasional.

Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany menjelaskan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada cadangan, tetapi juga kemampuan mengembangkan sumber energi alternatif lainnya.

Ia menekankan percepatan transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) penting untuk mengurangi ketergantungan energi fosil.

“Ketahanan energi perlu didukung teknologi berbasis potensi lokal,” ujar Taufany dalam keterangan tertulis dikutip pada Selasa (7/4/2026)

Menjawab tantangan tersebut, ITS mengembangkan riset bahan bakar alternatif berbasis kelapa sawit melalui konversi crude palm oil (CPO) menjadi bensin biogasolin.

Inovasi bensin biogasolin sawit ITS atau Benwit ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan potensi domestik sebagai solusi energi alternatif yang mendukung kemandirian energi nasional.

Selain itu, ITS juga mengembangkan berbagai inovasi energi terintegrasi melalui pembangunan Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDI).

Fasilitas ini merupakan living laboratory energi terbarukan terbesar di Indonesia yang mengintegrasikan berbagai sumber energi seperti photovoltaic, agrovoltaic, biomassa, hingga hidrogen.

“REIDI dirancang untuk menjembatani riset dengan kebutuhan industri dan masyarakat,” jelasnya.

Melalui fasilitas tersebut, ITS tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga pada pengujian dan implementasi dalam skala nyata.

“Implementasi langsung menjadi kunci agar inovasi dapat memberikan dampak nyata,” imbuhnya.

Pendekatan integratif ini juga diterapkan ITS di luar lingkungan kampus, salah satunya melalui proyek Solar2Wave. Proyek ini menghadirkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) apung nearshore pertama di Indonesia yang ditujukan untuk mendukung kemandirian energi di wilayah pesisir.

Sejalan dengan upaya tersebut, ITS juga mendorong diversifikasi energi melalui pengembangan berbagai sumber bahan bakar alternatif, seperti bioetanol, kendaraan listrik, hingga teknologi hydrogen fuel cell.

“Diversifikasi energi diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” tegasnya.

Taufany menekankan penguatan ketahanan energi nasional memerlukan sinergi antara riset, kebijakan, dan implementasi. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri menjadi faktor kunci dalam percepatan pengembangan teknologi energi.

“Kolaborasi diperlukan agar inovasi dapat diimplementasikan secara luas,” pungkas dosen Departemen Teknik Kimia ITS tersebut.

Selain riset, ITS juga melayani konversi kendaraan roda dua berbahan bakar bensin menjadi motor listrik berbasis baterai melalui Kawasan Sains Teknologi (KST) atau Science Techno Park (STP) Otomotif.

Melalui bengkel konversi yang berdiri sejak tahun 2022 ini, ITS turut mendukung percepatan ekosistem kendaraan listrik nasional serta menyediakan solusi mobilitas yang lebih efisien dan ramah lingkungan bagi masyarakat. (*/Hms/B1)