Bicaraindonesia.id, Surabaya Komite Pemersatu Suku Nusantara resmi terbentuk di Kota Surabaya, Sabtu (7/3/2026). Pembentukan komite ini sebagai upaya merangkul keberagaman suku dan etnis di Indonesia agar menjadi kekuatan dalam mendorong kemajuan bangsa.

Dalam pembentukan komite tersebut, Grace Evi Ekawati dipercaya sebagai Ketua. Perempuan yang akrab disapa Mama Evi itu menyampaikan bahwa pembentukan komite didasari kepedulian terhadap masyarakat serta keinginan menyatukan berbagai etnis agar hidup rukun.

“Karena hati, kepedulian dengan masyarakat, sehingga seluruh etnis itu kita mau kumpulkan, ya jelas kita menjadi berkat aja. Karena kita enggak mau neko-neko, tapi dengan yang kita miliki, hati yang kita miliki, kita berkeinginan menjadi berkat untuk banyak orang, khususnya bagaimana mengumpulkan etnis yang berbeda-beda itu bisa menjadi satu supaya enggak geger ibaratnya gitu,” ujar Mama Evi, Sabtu (7/3/2025) malam.

Setelah ditunjuk sebagai ketua, Evi mengatakan akan segera menyusun struktur kepengurusan yang melibatkan anggota komite dari berbagai etnis. Ia juga membuka kesempatan bagi anggota yang ingin terlibat dalam kepengurusan.

“Setelah ini semua nanti terbentuk ya, saya berharap karena ini mau Agustusan ya kita bisa menampilkan kesenian daerah karena kita ingin memberikan pengetahuan dengan nasionalisme pada anak-anak generasi sekarang,” ucapnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Yordan M. Batara Goa, mengapresiasi terbentuknya Komite Pemersatu Suku Nusantara tersebut.

Menurutnya, keberadaan komite menjadi sinyal bahwa masyarakat menginginkan kehidupan yang damai, rukun, serta saling bersinergi di tengah keberagaman.

“Kami menyambut baik dan mendukung adanya komite pemersatu etnis dan suku Nusantara ini. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat merindukan kondisi yang damai, guyub, bersatu, dan bersinergi,” ujar Yordan.

Ia menilai perbedaan suku dan etnis tidak seharusnya dipandang sebagai sumber perpecahan. Sebaliknya, keberagaman merupakan kekayaan sosial yang dapat memperkuat persatuan nasional.

“Perbedaan suku dan etnis bukan menjadi kelemahan, justru menjadi keunggulan yang harus kita optimalkan. Jika perbedaan itu bisa dikomunikasikan dan dikelola dengan baik, kita bisa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk kemajuan bangsa,” katanya.

Yordan berharap komite tersebut tidak hanya menjadi simbol persatuan, tetapi mampu menjalankan berbagai program yang mempererat hubungan antar komunitas serta memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah.

“Keberagaman yang ada harus diartikan dengan baik sehingga kita bisa melakukan sesuatu yang hebat untuk kemajuan Surabaya, Jawa Timur, dan Indonesia,” tandasnya. (*/Dap/A1)