Bicaraindonesia.id, Jakarta Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengintensifkan penanganan kayu hanyutan dan material sisa bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah terdampak, meliputi Aceh, Sumatra Barat (Sumbar), dan Sumatra Utara (Sumut).

Upaya ini dilakukan untuk memulihkan akses masyarakat sekaligus memastikan pemanfaatan kayu sisa bencana berjalan tertib dan bermanfaat.

Penanganan meliputi proses pembersihan, pemilahan, pendataan, hingga pemanfaatan kayu yang dilakukan secara terpadu bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan terkait.

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, tim gabungan Kemenhut mengerahkan 28 unit alat berat guna membersihkan tumpukan kayu yang menghambat akses jalan, halaman rumah warga, dan fasilitas pendidikan.

Hingga hari ke-16 penanganan, Senin (5/1/2026), kayu yang telah terdata dan berpotensi dimanfaatkan mencapai 300 batang dengan total volume 469,26 meter kubik.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menyampaikan bahwa penanganan difokuskan pada lokasi yang berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.

“Kami memprioritaskan pembersihan kayu yang menghalangi akses jalan, permukiman, dan fasilitas umum. Kayu yang masih bernilai guna kami pilah dan data agar bisa dimanfaatkan secara tertib untuk kebutuhan darurat warga,” ujar Subhan dalam keterangan tertulis dikutip pada Selasa (6/1/2026).

Pemanfaatan kayu sisa bencana tersebut telah mendukung pembangunan hunian sementara (huntara) oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan. Saat ini, dua unit huntara masih dalam proses pembangunan dan satu unit telah selesai dibangun.

Sementara itu di Sumatra Utara, penanganan pascabencana dipusatkan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tim gabungan mengerahkan 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck untuk kegiatan pemilahan kayu, normalisasi Sungai Garoga, pembersihan rumah warga, serta penataan lingkungan. Sejumlah segmen pemilahan kayu dilaporkan telah mencapai 100 persen sesuai peta kerja.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, mengatakan penanganan dilakukan bersamaan dengan penyiapan hunian bagi warga terdampak.

“Selain pembersihan dan pemilahan kayu, kami juga mendukung penyiapan lahan untuk huntara dan huntap. Kayu yang terdata akan dimanfaatkan untuk kebutuhan darurat masyarakat sesuai ketentuan,” jelas Novita.

Berdasarkan hasil pengukuran sementara di wilayah Garoga, tercatat 426 batang kayu bulat dengan volume 253,85 meter kubik serta kayu gergajian sebanyak 154 keping dengan volume 4,236 meter kubik.

Adapun di Sumatra Barat, Kemenhut melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) setempat bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan Dinas Kehutanan Provinsi melakukan identifikasi serta pendataan kayu hanyutan di Pantai Padang dan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Kuranji serta Sungai Air Dingin.

Kepala BKSDA Sumatra Barat, Hartono, menyatakan proses pendataan masih berlangsung secara menyeluruh di sejumlah lokasi terdampak.

“Data ini akan menjadi dasar pemanfaatan kayu sisa bencana setelah tim pemanfaatan ditetapkan melalui SK Gubernur,” ujar Hartono.

Kemenhut memastikan penanganan pascabencana akan terus dilanjutkan dengan pembaruan data secara berkala, guna memastikan pemanfaatan kayu sisa bencana berjalan transparan, tertib, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat terdampak. (*/Pr/A1)