Bicaraindonesia.id, Aceh Tamiang – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mempercepat pembersihan tumpukan kayu dan material limbah akibat banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatra. Kegiatan ini dilakukan secara terpadu oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemenhut bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, mitra swasta, relawan, dan masyarakat setempat.

Di Aceh Tamiang dan Aceh Utara, pembersihan difokuskan di kawasan Pesantren Darul Mukhlisin serta wilayah Langkahan. Tim gabungan mengerahkan ratusan personel dan puluhan unit alat berat guna mempercepat pemulihan lingkungan serta fasilitas publik yang terdampak bencana.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan mengatakan, pembersihan dilakukan secara intensif hingga malam hari. Sasaran pembersihan tidak hanya tumpukan kayu, tetapi juga ruang belajar, rumah ibadah, serta akses vital masyarakat.

Baca Juga:  TNI dan Kemenko Polkam Kebut Pembangunan Huntap untuk Korban Banjir Aceh Utara

“Hingga saat ini progres pembersihan di lingkungan pesantren telah mencapai sekitar 65 persen, dan kegiatan terus kami percepat dengan dukungan lintas pihak,” ujar Subhan dalam keterangan tertulis di Jakarta dikutip pada Senin (29/12/2025).

Subhan menambahkan, tim Manggala Agni, BBTNGL, dan BKSDA turut membersihkan ruang belajar dan fasilitas wudu masjid. Selain itu, dilakukan pengukuran dan penghitungan kayu limbah sebelum diangkut ke lokasi penampungan akhir sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara itu di Sumatra Utara, Kemenhut turut mendukung kegiatan pembersihan tumpukan kayu dan material limbah bencana yang dikomandoi Satgas Pemerintah Daerah. Pembersihan dilaksanakan di Desa Aek Ngadol, Desa Garoga, dan Desa Huta Godang dengan melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, mitra swasta, relawan, dan masyarakat.

Baca Juga:  TNI dan Kemenko Polkam Kebut Pembangunan Huntap untuk Korban Banjir Aceh Utara

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara, Novita Kusuma Wardani, menyampaikan bahwa keterlibatan Kemenhut difokuskan pada dukungan teknis, personel, serta pendampingan lapangan sesuai kewenangan.

“Kemenhut melalui BBKSDA Sumatera Utara ikut berpartisipasi mendukung Satgas, terutama dalam pembersihan di sekitar permukiman warga dan fasilitas umum, serta pendampingan teknis agar kegiatan berjalan aman dan tertib,” ujar Novita.

Ia menambahkan, sinergi lintas pihak menjadi kunci percepatan pemulihan wilayah terdampak. “Dengan komando Satgas, seluruh unsur bergerak bersama agar akses vital, fasilitas pendidikan, dan lingkungan permukiman dapat segera pulih dan kembali dimanfaatkan masyarakat,” tambahnya.

Di Sumatra Barat, pembersihan material kayu dilakukan di kawasan pantai Kota Padang oleh rimbawan yang terdiri dari UPT Kemenhut, Manggala Agni, dan Pemerintah Provinsi Sumatra Barat. Sejak 20 hingga 25 Desember 2025, area pantai sepanjang 5,6 kilometer ke arah utara telah berhasil dibersihkan.

Baca Juga:  TNI dan Kemenko Polkam Kebut Pembangunan Huntap untuk Korban Banjir Aceh Utara

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat, Hartono, mengatakan pembersihan dilakukan dengan kombinasi penggunaan alat berat dan gotong royong masyarakat.

“Material kayu besar ditangani menggunakan alat berat dan dijauhkan dari bibir pantai, sementara serpihan kayu dibersihkan secara manual. Di area dengan aktivitas nelayan, kayu telah dinaikkan ke daratan dan dirapikan untuk dikelola oleh masyarakat,” ujar Hartono.

Hartono menambahkan, pembersihan akan dilanjutkan ke lokasi berikutnya melewati kawasan cemara hingga ke muara Penjalinan dengan pendekatan serupa guna memastikan keselamatan serta efektivitas penanganan. (*/Pr/A1)