Bicaraindonesia.id, Surabaya – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur mulai menyiapkan strategi menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri 2026 yang akan digelar di Manado, Sulawesi Utara, pada Juli-Agustus mendatang.
KONI Jatim tidak langsung menggelar seleksi atlet, melainkan memulai dengan pemetaan kekuatan delapan cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan.
Pemetaan ini menjadi langkah awal untuk memastikan efektivitas pengiriman atlet sekaligus menjaga target prestasi Jawa Timur tetap optimal pada PON Bela Diri 2026. Delapan cabor yang masuk agenda yakni tinju, hapkido, anggar, kabaddi, IBC MMA, kickboxing, muaythai, dan kurash.
Dari delapan cabor tersebut, lima menjadi perhatian khusus KONI Jatim karena dinilai belum maksimal dan minim pengalaman pada ajang multievent nasional.
Kelima cabor itu adalah tinju, hapkido, anggar, kabaddi, dan IBC MMA. Sementara itu, muaythai, kickboxing, dan kurash dinilai lebih matang dengan rekam jejak prestasi yang relatif stabil.
Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Jawa Timur, Dudi Harjantoro, menegaskan tahap awal persiapan bukan seleksi atlet, melainkan inventarisasi potensi secara menyeluruh yang akan dimulai pada awal Januari 2026.
“Yang kita lakukan bukan seleksi, tapi inventarisasi atlet. Kita panggil semua cabor untuk mendata atlet yang benar-benar punya potensi, terutama peraih emas dan perak di PON sebelumnya,” ujar Dudi dalam keterangan tertulis di Surabaya dikutip pada Selasa (23/12/2025).
Menurut Dudi, pendekatan ini sangat penting, terutama bagi cabor yang belum memiliki basis prestasi kuat. KONI Jatim ingin memastikan setiap atlet yang dikirim memiliki peluang medali yang realistis.
“Waktunya sangat terbatas, hanya sekitar empat bulan. Kalau tidak bisa dikembangkan secara cepat dan terukur, tentu tidak kita kirim,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan keberhasilan Jawa Timur pada PON Bela Diri sebelumnya di Kudus, Jawa Tengah. Saat itu, Jatim hanya mengirim 79 atlet dan berhasil meraih 62 medali, sebuah rasio efektivitas yang melampaui provinsi besar seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat.
“Efektivitas jauh lebih penting. Kita tidak akan mengirim penuh di semua kelas. Semua disesuaikan dengan potensi dan peluang medali,” jelasnya.
Setelah proses inventarisasi selesai, KONI Jatim akan menentukan jumlah atlet dari masing-masing cabor, menyusun kebutuhan anggaran, serta menyiapkan program pemusatan latihan daerah (puslatda). Latihan intensif ditargetkan dimulai paling lambat empat bulan sebelum pertandingan.
“Sekitar Februari atau Maret sudah harus mulai latihan intensif, tergantung dukungan anggaran dari Pemprov. Dari sisi kesiapan atlet, Jawa Timur siap,” pungkas Dudi. (*/Dap/A1)

Tinggalkan Balasan