Bicaraindonesia.id, Jakarta Anggota DPR RI nonaktif, Ahmad Sahroni, membagikan kisah pribadinya melalui akun media sosial Instagram miliknya. Ia menegaskan bahwa keputusan non aktif dari Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) menjadi bagian dari pelajaran hidup sekaligus ujian konsistensi untuk tetap berbuat kebaikan.

“Ini satu pembelajaran. Mudah-mudahan pengalaman yang membuat menjadikan saya lebih dewasa dan lebih bijak,” kata Sahroni dalam video yang diunggah di akun Instagram resminya, @ahmadsahroni88, seperti dilihat Bicaraindonesia.id, pada Jumat (21/11/2025).

Sahroni mengaku semakin menyadari bahwa perjuangannya sebagai anggota DPR RI yang berpihak pada korban kasus-kasus hukum harus dilakukan lebih keras. Menurutnya, banyak kasus viral yang membuat aksi pembelaannya dirindukan publik.

Baca Juga:  Kapolri Mutasi 54 Pati dan Pamen

Ia menyebut tidak banyak anggota DPR RI yang fokus melakukan pembelaan kepada korban hukum seperti dirinya. Karena itu, selama statusnya non aktif, tidak ada lagi sosok yang berdiri untuk membela rakyat kecil dalam kasus-kasus hukum.

“Saya tidak akan berhenti untuk melakukan kebaikan kepada semua orang,” ujar politisi Partai NasDem tersebut.

“Politik bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tetap berusaha baik bahkan saat orang tidak percaya,” tambahnya.

Unggahan video tersebut langsung menuai beragam komentar. Banyak warganet yang memberikan dukungan melalui pesan dan emoji.

Baca Juga:  Anggota DPR RI Minta Pemerintah Waspada Eskalasi Konflik Israel-AS dan Iran

“Semangat ndan. Ndan orang baik,” tulis akun @ferr****. “Pasti ada hikmahnya om,” komentar @cikoneng****. “Tetap konsisten membantu orang yang membutuhkan,” tambah @achmadwin****.

Sahroni juga melihat apa yang dialaminya sebagai bagian dari perjalanan hidup. Ia menuturkan bahwa kehidupannya sebagai anak Priok yang keras membuatnya tidak lari dari keadaan.

Terlebih, menjadi anggota DPR bukan tujuan awalnya, sebab sebelumnya ia sudah lebih dulu sukses sebagai pengusaha dan dikenal sebagai crazy rich Priok.

Dalam video tersebut, Sahroni menceritakan bahwa ia dibesarkan di salah satu kawasan paling keras di Jakarta. Masa kecil dan remajanya dijalani dalam kesederhanaan dengan berbagai pekerjaan kasar demi bertahan hidup.

Baca Juga:  Ahmad Sahroni Apresiasi Langkah Tegas Polri PTDH Bripda MS

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Sahroni sudah bekerja serabutan, mulai dari tukang semir sepatu, penjual es, hingga ojek payung.

Setelah lulus SMA, ia tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Ia kemudian bekerja sebagai sopir tembak, sopir truk, dan buruh pelabuhan Tanjung Priok.

“Priok itu keras. Dan di situlah seorang anak tumbuh jadi kuat sejak kecil. Bukan dari keturunan kaya tapi dari perjuangan sejak SD sudah kerja bantu keluarga,” tulis keterangan dalam video yang diunggah @ahmadsahroni88. (*/An/A1)