Bicaraindonesia.id, Cibinong – Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengidentifikasi dan mendeskripsikan spesies baru cecak jarilengkung (genus Cyrtodactylus) yang berasal dari Jawa Timur.
Spesies baru ini diberi nama Cyrtodactylus pecelmadiun, terinspirasi dari kuliner khas Jawa Timur, “pecel Madiun”. Nama tersebut dipilih karena cecak ini ditemukan di sekitar Madiun, tepatnya di Maospati dan Mojokerto.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Awal Riyanto, mengungkapkan bahwa spesies ini ditemukan di lingkungan urban, seperti tanggul jembatan, tumpukan genteng, serta kebun di permukiman desa.
Ia menjelaskan alasan di balik pemilihan nama spesies yang merujuk pada kuliner Nusantara.
“Para peneliti ingin mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dalam deskripsi C. papeda dari Pulau Obi dan C. tehetehe dari Kepulauan Derawan,” ujar Awal dalam siaran tertulisnya dikutip pada Rabu (26/3/2025).
Secara morfologi, C. pecelmadiun memiliki warna dasar cokelat kehitaman. Cecak jantan dewasa memiliki panjang tubuh (Snout-Vent Length/SVL) hingga 67,2 mm, sedangkan betina mencapai 59,0 mm.
Spesies ini memiliki 18–20 baris tuberkular dorsal yang tidak teratur di bagian tengah tubuh, 26–28 baris tuberkular antara ketiak dan selangkangan, serta 28–34 baris sisik perut.
Pada individu jantan, terdapat ceruk precloacal dengan 32–37 pori precloacofemoral, sementara bagian subkaudalnya tidak memiliki sisik lebar.
“Kami mengamati bahwa C. pecelmadiun cenderung sebagai spesies generalis dalam hal habitat. Spesies ini ditemukan tidak lebih dari 40 cm di atas permukaan tanah, di berbagai lingkungan yang dekat dengan aktivitas manusia,” ungkapnya.
Sebagai informasi, cecak jarilengkung Jawa atau Cyrtodactylus marmoratus merupakan spesies pertama yang dideskripsikan oleh Gray (1831), berdasarkan spesimen yang dikoleksi oleh Heinrich Kuhl dan Johan Conrad van Hasselt. Saat ini, spesimen tersebut tersimpan di Museum Naturalis, Belanda.
Setelah 84 tahun berselang, de Rooij (1915) melaporkan keberadaan C. fumosus, yang pertama kali dideskripsikan oleh Müller (1895) dan kemudian dikonfirmasi oleh Brongersma (1934).
Seiring perkembangan penelitian, beberapa spesies baru dari Jawa telah dideskripsikan, antara lain C. semiadii (2014), C. petani (2015), C. klakahensis (2016), dan C. belanegara (2024).
Namun, studi oleh Mecke et al. (2016) menemukan bahwa populasi C. fumosus di Jawa sebenarnya merupakan variasi dari C. marmoratus.
Sementara itu, Riyanto et al. (2020) mensinonimkan C. klakahensis sebagai C. petani berdasarkan analisis taksonomi integratif.
Secara filogenetik, C. pecelmadiun berkerabat dekat dengan C. petani, dengan jarak genetik 0,1-1,6%. Spesies ini menjadi bukti kedua keberadaan grup darmandvillei di Jawa setelah C. petani, di mana grup ini melimpah di kawasan Sunda Kecil.
Secara keseluruhan, Cyrtodactylus di Jawa terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu grup darmandvillei dan marmoratus, yang keduanya merupakan kompleks spesies.
Penemuan C. pecelmadiun semakin mendorong eksplorasi lebih lanjut untuk mengungkap keragaman tersembunyi (hidden diversity) dari Cyrtodactylus di Jawa.
Masih banyak spesies yang belum teridentifikasi secara menyeluruh, sehingga penelitian lebih lanjut sangat diperlukan.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Zootaxa pada edisi 16 Januari 2025 dan menjadi referensi penting dalam studi taksonomi serta konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.
“Penemuan ini semakin mendorong eksplorasi lebih lanjut untuk mengungkap keragaman tersembunyi dari Cyrtodactylus di Jawa, mengingat masih banyak spesies yang belum teridentifikasi secara menyeluruh,” pungkas Awal. (*/Pr/B1)