Bicaraindonesia.id – Pasukan Pamor Keris (Patroli Motor Penegakan Protokol Kesehatan di Masyarakat), mulai bergerak menertibkan kembali protokol kesehatan (prokes). Gerakan tersebut diinisiasi karena melihat adanya pelonggaran prokes yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kita baru saja melaksanakan apel Pamor Keris. Kita berharap bahwa bersama-sama kita akan bisa melakukan penegakan protokol kesehatan. Karena, ketika terjadi pelandaian kasus, ada semacam pelonggaran penegakan prokes yang terjadi di masyarakat,” kata Gubernur Khofifah seusai memimpin Apel Pamor Keris di Lapangan Makodam V Brawijaya Surabaya, Senin (24/1/2022).
Terlebih pula, seiring dengan fenomena varian Omicron, tentunya harus diikuti dengan meningkatnya penegakan prokes. Dia menyatakan, bahwa penegakan prokes juga harus dilalukan pada semua lini.
“Data Kemenkes juga menunjukkan bahwa seiring dengan adanya fenomena varian omicron, kita harus kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya penegakan prokes dan itu harus dilakukan di semua lini dan semua level. Maka kami menginisiasi gerakan ini,” terangnya.
Gubernur perempuan pertama di Jatim itu menerangkan, bahwa Apel Pamor Keris bukan hanya dilaksanakan di Surabaya. Melainkan juga serentak di semua lini kabupaten/kota se Jatim. Dengan harapan, penyatuan langkah akan memasifkan upaya penegakan protokol kesehatan di Jatim.
Tak hanya itu, Gubernur Khofifah juga menyinggung terkait kesiapsiagaan penanganan kedatangan pekerja migran ke Jatim. Menurutnya, penanganan ini harus dilakukan secara mitigatif dan komprehensif.
“Tanggal 22 Januari 2022 ada 129 tenaga migran yang masuk dari ke Jatim dari bandara Juanda. Tangga 26 nanti direncanakan juga akan datang lagi sebanyak 164 orang, kita semua harus siap untuk melakukan karantina dan memberikan layanan pada para tenaga migran,” jelas Gubernur Khofifah.
Dari kedatangan pekerja migran rombongan pertama, kata dia, diketahui dua orang terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan testing yang dilakukan. Dua orang tersebut, kini telah mendapatkan penanganan di Rumah Sakit (RS) Haji.
Ia memastikan, bahwa selain testing, tracing yang masif juga terus dilakukan. Khusus untuk tracing ini, Gubernur Khofifah meminta semua harus patuh. Artinya, setiap ada yang terkonfirmasi positif, maka kontak erat di lingkungan tersebut harus dilakukan. Tak hanya di sektor tenaga migran tapi juga di sekolah, perkantoran maupun keluarga.
“Pastikan semua ter-tracing. Sesuai anjuran Kemenkes dalam tracing kontak erat minimal untuk satu kasus tracingnya 15 orang, tapi kita di Jatim tracingnya 19 orang setiap kasus,” tegasnya.
Selain itu, sebagai antisipasi lonjakan kasus, Gubernur Khofifah kini juga telah mengaktifkan kembali sejumlah isolasi terpadu (isoter). Oleh sebab itu, dia meminta kerjasama dari seluruh Tenaga Kesehatan (nakes) dan relawan untuk bisa kembali bersiap-siaga dan membangun sinergitas yang baik.
“Keberadaan Isoter harus segera dilakukan reaktivasi, nakes dan relawan juga harus turut disiapkan,” pungkasnya. (SP/HD1/A1)