Bicaraindonesia.id, Jakarta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memulai revitalisasi Taman Semanggi dengan skema pembiayaan kreatif yang memastikan pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) ini tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Langkah tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada Jumat (20/2/2026).

Revitalisasi taman seluas sekitar enam hektare yang tersebar di empat sisi kawasan Simpang Susun Semanggi ini dilaksanakan secara kolaboratif melalui skema pembiayaan berbasis hak penamaan (naming rights).

Skema tersebut memungkinkan pembangunan berjalan tanpa membebani kas daerah sekaligus menjamin keberlanjutan pengelolaan taman ke depan.

Baca Juga:  Selama Ramadan 1447 H, Satpol PP DKI Kerahkan 80 Personel Awasi Tempat Hiburan

Ke depan, Taman Semanggi akan dilengkapi berbagai fasilitas publik, seperti jalur pedestrian, area olahraga, plaza kegiatan, ruang komunal, elemen air, serta kolam resapan dan tampungan air guna meningkatkan kualitas lingkungan dan pengelolaan limpasan air hujan.

Gubernur Pramono menyampaikan, Taman Semanggi merupakan kawasan bersejarah yang digagas Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, pada 1962.

Bentuk simpang susun yang menyerupai empat helai daun semanggi merepresentasikan fungsi, konektivitas, dan transformasi, sekaligus nilai estetika dan kehidupan yang tetap relevan hingga saat ini.

“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin kawasan ini benar-benar menjadi tempat yang ikonik dan dapat dimanfaatkan oleh semua orang dengan baik. Taman Semanggi akan menjadi simbol regenerasi dari gagasan Bung Karno yang tetap kontekstual dengan kebutuhan Jakarta hari ini,” ujar Pramono dalam keterangannya dikutip pada Sabtu (21/2/2026).

Baca Juga:  Selama Ramadan 1447 H, Satpol PP DKI Kerahkan 80 Personel Awasi Tempat Hiburan

Pramono menjelaskan konsep revitalisasi Taman Semanggi mengusung tiga pendekatan utama. Pertama, regeneration, yakni pemulihan ekologi kawasan melalui penataan lanskap dan penanaman vegetasi.

Kedua, reconnection, yaitu penguatan keterhubungan antarruang agar kawasan taman seluas kurang lebih enam hektare ini dapat diakses dengan lebih mudah, aman, dan nyaman.

“Kemudian, ada reactivation, yaitu mengaktifkan kembali kawasan taman agar dapat dimanfaatkan oleh seluruh kelompok masyarakat,” katanya.

“Yang paling penting, seluruh penataan ini dilakukan tanpa mengganggu lalu lintas yang ada. Kawasan Semanggi merupakan koridor transportasi utama sekaligus wajah Jakarta,” sambungnya.

Baca Juga:  Selama Ramadan 1447 H, Satpol PP DKI Kerahkan 80 Personel Awasi Tempat Hiburan

Ia menambahkan, selama ini kawasan Taman Semanggi cenderung berfungsi pasif dan terfragmentasi oleh arus lalu lintas. Melalui revitalisasi, kawasan ini akan ditata menjadi ruang publik yang aktif, terintegrasi, dan inklusif dengan menghubungkan fungsi ekologi, mobilitas pejalan kaki dan pesepeda, serta aktivitas sosial masyarakat.

Dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp134 miliar yang sepenuhnya tidak bersumber dari APBD, revitalisasi ini menjadi contoh kolaborasi inovatif Pemprov DKI dalam menghadirkan RTH berkualitas tanpa membebani keuangan daerah. (*/Pr/C1)