Bicaraindonesia.id, Yogyakarta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pemanfaatan biomassa hutan sebagai sumber bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Salah satu komoditas yang diteliti adalah tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum), spesies asli Indonesia yang dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber bioenergi berbasis hutan.

Riset yang dilakukan BRIN mencakup aspek perbenihan, teknik silvikultur intensif, serta pemuliaan pohon untuk meningkatkan produktivitas biji.

Selain itu, penelitian juga diarahkan pada peningkatan rendemen minyak dan pengembangan teknologi pengolahan minyak mentah nyamplung (crude oil) menjadi biofuel agar memenuhi standar teknis dan keekonomian sebagai alternatif BBM.

“Minyak nyamplung atau Tamanu Crude Oil (TCO) berpotensi besar untuk diproses menjadi bahan baku biofuel atau bahan bakar ramah lingkungan seperti biokerosin, biodiesel, dan bioavtur/sustainable aviation fuel (SAF),” ujar Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, dalam pernyataan resmi dikutip Rabu (18/2/2026).

Menurut Budi, pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk mengeksploitasi hutan, melainkan mengoptimalkan biomassa melalui sistem pengelolaan hutan berkelanjutan berbasis sains.

Sebagai bahan baku biofuel non-pangan (non-edible oil) yang berbuah sepanjang tahun, nyamplung juga menghasilkan limbah industri bernilai tambah. Cangkang buah, bungkil biji, resin atau gum, hingga gliserol dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti arang aktif dan pelet berkalor tinggi, pakan ternak berprotein tinggi, biofarmaka (obat dan kosmetik herbal), serta sabun herbal.

BRIN turut mendorong agar hasil riset tidak berhenti pada skala laboratorium, tetapi terintegrasi dengan kebijakan serta kebutuhan industri energi nasional.

“Teknologi konversi biomassa sudah banyak dikaji dan terbukti layak secara teknis. Tantangannya adalah bagaimana mempercepat hilirisasi dan memastikan dukungan kebijakan yang konsisten,” jelasnya.

Dalam konteks pengurangan impor BBM dan penguatan bauran energi nasional, inovasi biomassa hutan dinilai strategis karena memanfaatkan sumber daya domestik yang melimpah, memberikan nilai tambah ekonomi di dalam negeri, mendukung pengurangan emisi karbon dan komitmen transisi energi bersih, serta memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya hayati menuju kemandirian energi nasional.

Budi menambahkan, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar dari sumber daya hutan tropis.

“Indonesia sebenarnya tidak kekurangan energi. Kita hanya belum optimal memanfaatkan potensi biomassa hutan sebagai sumber energi terbarukan,” katanya.

Pengembangan biomassa hutan menjadi biofuel merupakan bagian dari agenda riset dan inovasi (risnov) BRIN di bidang energi baru dan terbarukan.

Melalui pendekatan multidisiplin, BRIN mengembangkan inovasi dari hulu hingga hilir, mulai dari aspek budi daya tanaman penghasil bioenergi, optimalisasi produktivitas, hingga rekayasa proses konversi menjadi bahan bakar cair yang efisien dan ramah lingkungan.

Momentum transisi energi nasional dinilai menjadi peluang strategis untuk menempatkan BBN berbasis tanaman hutan sebagai bagian dari peta jalan energi Indonesia.

Melalui riset dan inovasi yang terintegrasi serta kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, dan industri, BRIN berupaya menghadirkan solusi energi berkelanjutan berbasis keunggulan hayati Indonesia.

“Kemandirian energi itu realistis dan merupakan suatu keniscayaan. Kita memiliki sumber daya dan kapasitas ilmiah yang memadai. Yang dibutuhkan adalah konsistensi riset, inovasi, dan sinergi kebijakan. Hal ini juga membuka peluang Indonesia untuk kembali menjadi negara produsen atau pengekspor minyak, jika dulu eksportir BBM, ke depan dalam bentuk BBN,” pungkas Budi. (*/BRIN/B1)