Bicaraindonesia.id, Bogor – Tim kolaborasi internasional dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University (Australia) menemukan seni cadas berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature melalui artikel berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawes”.

Penemuan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern.

Seni cadas di Pulau Muna ini tercatat sebagai seni cadas tertua di dunia yang pernah tertanggal secara andal, sekaligus menjadi bukti langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu.

Kepala Pusat Arkeometri BRIN, Sofwan Noewidi, mengatakan penelitian ini menunjukkan penerapan teknologi mutakhir dalam penanggalan arkeologi, khususnya metode uranium-series berbasis laser ablation (LA-U-series), yang memungkinkan penentuan kronologi budaya secara lebih presisi.

“Melalui analisis langsung pada lapisan kalsit yang menutupi pigmen seni cadas, kami tidak lagi bergantung pada penanggalan tidak langsung. Sifat fisikokimia speleothem kalsit berfungsi sebagai arsip mikrostratigrafi alami yang memungkinkan kami menetapkan batas umur minimum yang andal bagi aktivitas simbolik manusia modern,” ujar Sofwan dalam siaran persnya dikutip pada Selasa (27/1/2026).

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, menjelaskan bahwa usia minimum seni cadas di Pulau Muna ini lebih tua sekitar 16,6 ribu tahun dibandingkan seni cadas dari Maros-Pangkep yang ditemukan sebelumnya.

Selain itu, usia temuan ini juga lebih tua 1,1 ribu tahun dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang selama ini dikaitkan dengan Neanderthal dan dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.

Menurut Adhi, penentuan usia dilakukan dengan menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua.

Analisis menunjukkan umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang memberikan batas usia minimum 67,8 ribu tahun bagi cap tangan di Leang Metanduno, Pulau Muna.

Temuan ini menegaskan bahwa kawasan Wallacea tidak hanya berperan sebagai jalur migrasi menuju Australia, tetapi juga merupakan ruang hidup utama bagi manusia modern awal.

“Sangat mungkin bahwa pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia,” kata Adhi.

Penemuan tersebut sekaligus memperkuat model kronologi panjang yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia-Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.

“Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu,” tambah Adhi.

Penelitian ini juga memberikan bukti langsung tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penyeberangan laut antara Kalimantan (Borneo) dan Papua-wilayah yang hingga kini relatif minim dieksplorasi secara arkeologis.

“Temuan ini menunjukkan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar yang berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini,” tambah Prof. Maxime Aubert, salah satu peneliti utama.

Sementara itu, Prof Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), Griffith University, menyampaikan cap tangan dari Pulau Muna memiliki karakteristik unik secara global, yakni modifikasi bentuk jari yang menyempit menyerupai cakar (narrow finger), yang mencerminkan ekspresi simbolik yang matang.

“Namun, seni ini bisa saja melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat. Hal tersebut sudah mulai terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang kami tafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan,” terang Prof Adam Brumm.

Penemuan seni cadas berusia 67.800 tahun di Sulawesi Tenggara ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan arkeologi berbasis sains material di Indonesia. Seiring ditemukannya sebaran situs seni cadas Pleistosen di kawasan karst Sulawesi, para peneliti menekankan pentingnya perlindungan warisan budaya yang tak tergantikan.

Para peneliti mendorong agar perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba dimasukkan sebagai bagian integral dalam perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam. (*/Pr/B1)