Bicaraindonesia.id, Banjarnegara – Puluhan warga Dusun Bawang dan Pringamba, Desa Aribaya, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, akhirnya bisa lepas dari bayang-bayang bencana tanah longsor.

Mereka kini menempati rumah baru hasil program relokasi yang digulirkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah di lokasi yang lebih aman.

Relokasi dilakukan sekitar satu kilometer dari permukiman lama ke area yang dinilai stabil dan jauh dari tebing rawan longsor. Pemprov Jateng membangun 29 unit rumah menggunakan anggaran APBD dan menambah tujuh unit lain melalui APBD Perubahan 2025.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Provinsi Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, mengatakan, bantuan relokasi tersebut merupakan bagian dari upaya Pemprov Jateng di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi untuk memperkuat mitigasi bencana.

“Kami memiliki pembangunan rumah apung, dan kami juga melakukan relokasi dampak bencana lain, yakni tanah gerak, di Desa Aribaya. Di sana kita relokasi bekerja sama dengan pemda setempat ada 29 KK bertempat secara komunal. Dan lokasinya sudah dilakukan kajian, dan dapat ditempati hunian,” ujar Boedyo dalam keterangan tertulis dikutip pada Kamis (9/10/2025).

Baca Juga:  Jateng Perketat Alih Fungsi Lahan Demi Swasembada Pangan 2026

Boedyo menambahkan, Pemprov Jawa Tengah terus memperluas program perumahan penanganan kebencanaan di berbagai daerah.

“Di tahun 2025 ada total 270 unit untuk penanganan akibat bencana. Ada yang relokasi, pembangunan baru dan juga RTLH,” katanya.

Puluhan unit rumah yang dibangun menggunakan konsep Rumah Susun Panel Instan (Ruspin), yakni hunian tahan gempa dan ramah lingkungan.

Selain tempat tinggal, kawasan relokasi tersebut juga dirancang menyerupai kompleks perumahan modern, dengan jalan lingkungan tertata, sistem drainase memadai, serta area terbuka yang dapat digunakan warga untuk beraktivitas bersama.

Baca Juga:  Jateng Perketat Alih Fungsi Lahan Demi Swasembada Pangan 2026

Bagi warga seperti Karsiyem, penerima manfaat program relokasi, bantuan ini menjadi anugerah besar setelah bertahun-tahun hidup dalam kekhawatiran.

“Saya tidak pernah menyangka bisa punya rumah yang aman dari bencana tanah gerak dan longsor,” ujarnya.

Selama ini, kata Karsiyem, setiap musim hujan menjadi masa yang menegangkan karena rumahnya di Dusun Pringamba berada di lokasi rawan longsor.

“Dulu, kalau musim hujan tidak bisa tidur karena khawatir kena longsor. Apalagi, rumah saya sudah rusak parah,” tuturnya.

Kini, setelah direlokasi dan mendapat rumah baru dari pemerintah, Karsiyem mengaku hidupnya jauh lebih tenang.

“Sekarang tidur rasanya tenang, sudah tidak was-was setiap hujan turun. Rasanya senang banget,” imbuhnya.

Hal serupa diungkapkan Sutoyo, warga Dusun Bawang yang juga menjadi penerima bantuan rumah. Ia menyebut, bantuan dari Pemprov Jateng menjawab keresahan warga yang selama bertahun-tahun hidup di bawah ancaman tanah gerak.

Baca Juga:  Jateng Perketat Alih Fungsi Lahan Demi Swasembada Pangan 2026

“Saya sudah lama ingin pindah cari hunian yang lebih aman. Tapi karena tidak punya uang, jadi harus bertahan di situ,” ujarnya.

Sutoyo menuturkan, kondisi dusunnya sudah mengalami pergerakan tanah sejak tujuh tahun lalu, membuat banyak rumah rusak dan retak.

“Itu banyak rumah yang dindingnya retak karena tanah gerak. Dan kalau musim hujan longsor,” katanya.

Kini, rumah barunya hampir selesai dibangun di lokasi yang lebih aman dan jauh dari tebing rawan bencana.

“Senang sekali bisa dibantu sama pemerintah. Punya rumah yang jauh lebih aman. Jadi tenang, tidak khawatir lagi,” pungkasnya. (*/Pr/C1)