Bicaraindonesia.id, New York – Indonesia mencalonkan diri sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) periode 2029-2030. Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan Indonesia akan membawa pendekatan yang mengedepankan persatuan, dialog, dan kerja sama konkret dalam pencalonan tersebut.
Hal itu disampaikan Menlu Sugiono dalam Pernyataan Nasional Indonesia pada Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat, Jumat (26/9/2026).
Dalam pencalonan tersebut, Indonesia mengusung tema “Fostering Unity, Advancing Peace”. Sugiono mengatakan Indonesia akan membawa pendekatan yang selama ini menjadi landasan politik luar negerinya dalam menjalankan peran di forum multilateral.
“Delapan puluh satu tahun lalu, Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa lahir dengan sebuah keyakinan dan tujuan yang sama, yaitu untuk tidak menyerahkan masa depan umat manusia kepada perang dan perpecahan,” ujar Sugiono seperti dikutip Bicaraindonesia.id dari laman resmi Kemlu RI pada Minggu (27/9/2026)
Menurut Sugiono, pengalaman Indonesia dalam membangun ketahanan nasional menjadi salah satu landasan untuk memperkuat kerja sama di tingkat kawasan maupun global.
Ia menjelaskan, ketahanan nasional dibangun melalui kemandirian pangan dan ketahanan energi, investasi pada pendidikan dan kesehatan, serta pembangunan ekonomi yang mampu menghadapi berbagai guncangan.
Sebagai negara dengan lebih dari 280 juta penduduk, Indonesia juga menempatkan persatuan dalam keberagaman, demokrasi, HAM, dan supremasi hukum sebagai bagian penting dari ketahanan nasional.
“Dari Aceh sampai Papua, dari Miangas sampai Rote, Indonesia adalah satu rakyat, satu bangsa,” ujar Menlu Sugiono.
Sugiono mengatakan ketahanan nasional juga menjadi fondasi bagi ketahanan kawasan. Ia mencontohkan ASEAN yang selama hampir enam dekade mampu mengelola perbedaan, menjaga komunikasi, dan terus mencari titik temu.
“Persatuan dan sentralitas ASEAN memungkinkan kawasan untuk tetap membuka ruang dialog dan kerja sama dengan semua mitra, termasuk di tengah meningkatnya kompetisi strategis,” tegasnya.
Di tingkat global, Indonesia memandang PBB memiliki peran yang tidak tergantikan. Namun, sistem multilateral dinilai perlu terus bertransformasi agar lebih representatif, tangkas, dan mampu memberikan hasil konkret.
“Jawaban terhadap multilateralisme yang belum sempurna bukanlah mengurangi multilateralisme. Jawabannya adalah multilateralisme yang lebih baik,” tegas Menlu Sugiono.
Dalam konteks pencalonan sebagai Anggota Tidak Tetap DK PBB periode 2029-2030, Sugiono menegaskan Indonesia akan mengedepankan dialog dan pencarian titik temu sebagai bagian dari pendekatan diplomasi.
Indonesia juga akan menjunjung Piagam PBB secara konsisten serta menerjemahkan tanggung jawab bersama menjadi kerja sama konkret.
Salah satu isu yang menjadi perhatian Indonesia adalah Palestina. Sugiono menilai persoalan tersebut menjadi salah satu ujian nyata bagi sistem multilateral dalam menegakkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar pembentukannya.
“Palestina bukan hanya persoalan satu kawasan. Isu Palestina merupakan ujian apakah sistem multilateral mampu menegakkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar pembentukannya dan memberikan hasil ketika paling dibutuhkan,” ujarnya.
Indonesia akan terus berdiri bersama rakyat Palestina hingga hak menentukan nasib sendiri terpenuhi dan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat terwujud berdasarkan Solusi Dua Negara, sesuai hukum internasional dan parameter yang telah disepakati secara internasional.
Sugiono juga menegaskan kesiapan Indonesia untuk terus mengambil bagian dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional melalui diplomasi dan mediasi, bantuan kemanusiaan, pembangunan perdamaian, serta kontribusi pada misi pemeliharaan perdamaian PBB.
Pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap DK PBB periode 2029-2030 sendiri merupakan bagian dari agenda diplomasi multilateral Indonesia. Dokumen Kementerian Luar Negeri mencatat pemilihan untuk periode tersebut akan berlangsung di New York pada 2028.
Mengakhiri pernyataannya, Menlu Sugiono meneruskan seruan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Majelis Umum PBB tahun lalu agar negara-negara semakin mendekat, bukan semakin menjauh.
“Hanya melalui ketahanan bersama, PBB akan cukup kuat untuk memenuhi janji yang kita buat 81 tahun lalu: masa depan yang damai bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (*/Sp/A1)

Tinggalkan Balasan