Bicaraindonesia.id, NTT – Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) mendukung pertukaran pengetahuan dan inovasi pertanian serta pengolahan limbah organik antara masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Puluhan warga Pesisir Selatan melakukan kunjungan belajar ke TTU untuk melihat secara langsung berbagai praktik inovatif dalam pengelolaan ketahanan pangan yang dikembangkan masyarakat setempat.

Praktik tersebut meliputi penerapan Sistem Pertanian Meningkatkan Organik Tanah (SPM), metode MTOT (Mulsa Tanpa Olah Tanah), hingga pemanfaatan Eco-Enzym dalam kegiatan pertanian dan pengelolaan lingkungan.

GIZ National Communication Advisor GIZ SDGs SSTTC, Lena Herliana, yang mewakili bagian komunikasi kerja sama Pemerintah Jerman, mengatakan pembangunan berkelanjutan tidak hanya lahir dari kebijakan di tingkat nasional, tetapi juga tumbuh dari pengalaman dan inovasi masyarakat di tingkat lokal.

Menurutnya, dukungan kerja sama Pemerintah Jerman terhadap berbagai praktik baik yang berkembang di daerah memiliki nilai penting untuk dibagikan dan direplikasi sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.

“Melalui kerja sama ini, kami ingin memperkuat kolaborasi ruang belajar antarwilayah sehingga masyarakat dapat saling berbagi pengalaman, menemukan solusi yang relevan, dan mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kondisi lokal mereka,” ujar Lena melalui keterangan tertulis yang diterima Bicaraindonesia.id dikutip pada Jumat (25/9/2026).

Program tersebut merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Jerman melalui GIZ untuk memperkuat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui pendekatan kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular Cooperation (SSTC) bersama Sekretariat SDGs di bawah kepemimpinan Kementerian Bappenas.

Pendekatan tersebut mendorong pertukaran pengalaman antardaerah di Indonesia sehingga keberhasilan yang lahir dari masyarakat dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lainnya.

Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara menyambut baik kunjungan tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan berbagai inovasi yang telah berkembang di tengah masyarakat.

Selain menjadi sarana berbagi pengalaman, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan pertanian berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Dalam berbagai sesi kunjungan lapangan, peserta dari Pesisir Selatan berdialog langsung dengan kelompok tani dan masyarakat penerima manfaat.

Mereka mempelajari proses pembuatan Eco-Enzym dari limbah organik rumah tangga, pemanfaatannya untuk pertanian ramah lingkungan, hingga penerapan teknik budidaya yang mampu meningkatkan kesuburan tanah dengan biaya yang lebih efisien.

Bagi masyarakat TTU, kehadiran peserta dari luar daerah menjadi pengakuan bahwa inovasi yang mereka bangun mampu memberikan dampak nyata. Sementara bagi peserta dari Pesisir Selatan, pengalaman tersebut menjadi sumber pembelajaran yang dapat diadaptasi sesuai karakteristik wilayah mereka.

Kerja sama yang difasilitasi Pemerintah Jerman melalui GIZ bersama Sekretariat SDGs tersebut menunjukkan bahwa pembangunan inklusif dapat dimulai dari desa dan komunitas lokal.

Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan internasional membuka ruang bagi inovasi yang lahir dari kebutuhan sehari-hari untuk berkembang menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan hingga ke pelosok negeri. (*/Pr/A1)