Bicaraindonesia.id, Surabaya – Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang telah mereda tetap perlu diwaspadai karena status gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga. Selain potensi erupsi, sisa abu vulkanik dari erupsi sebelumnya juga dapat menjadi ancaman bagi kesehatan apabila masih berada di lingkungan dan terhirup masyarakat.

Pakar spesialis pulmonologi dan respirasi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Kristen (UK) Petra, dr. Venny Singgih, Sp.P., menjelaskan paparan material vulkanik dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama sistem pernapasan.

Dosen FK UK Petra tersebut menerangkan bahwa erupsi gunung berapi menghasilkan dua komponen utama, yakni partikel dan gas. Dari komponen partikel, material yang perlu diwaspadai adalah respirable dust atau partikel mikroskopis berukuran PM10 dan PM2,5.

Partikel tersebut dapat menembus saluran pernapasan bawah hingga mencapai alveoli atau gelembung paru. Dampak paparan abu vulkanik dapat muncul dalam kondisi akut maupun berkembang menjadi gangguan kronis apabila terjadi dalam jangka panjang.

Baca Juga:  Gunung Anak Krakatau Level Waspada, Polda Banten Ingatkan Batas Aman

“Secara akut, paparan konsentrasi tinggi akan langsung memicu reaksi pada mata seperti pedih dan berair, kulit gatal dan muncul ruam hingga gangguan saluran napas. Debu yang masuk memicu iritasi yang membuat saluran napas menyempit, membengkak, dan memproduksi lendir berlebih. Hal ini bisa menyebabkan batuk hebat, sesak napas, hingga penurunan saturasi oksigen,” jelas dr. Venny dalam keterangan tertulisnya dikutip Bicaraindonesia.id pada Rabu (16/9/2026).

Dalam jangka panjang, paparan debu silika kristalin dengan konsentrasi rendah yang berlangsung selama berbulan-bulan hingga dalam waktu lama dapat memicu silikosis. Penyakit tersebut merupakan gangguan paru kronis akibat paparan debu silika.

“Sifat debu silika ini tidak dapat dieliminasi oleh tubuh dengan cara apapun. Akibatnya, timbul fibrosis atau jaringan parut permanen yang menurunkan fungsi paru secara ireversibel dan tidak bisa disembuhkan. Hanya dapat direhabilitasi,” tegasnya.

Baca Juga:  Gunung Anak Krakatau Level Waspada, Polda Banten Ingatkan Batas Aman

Untuk mengurangi risiko paparan material vulkanik, dr. Venny membagikan sejumlah langkah penanganan awal yang dapat dilakukan masyarakat.

Pertama, masyarakat dianjurkan segera berlindung di dalam rumah dengan menutup rapat seluruh pintu dan jendela. Celah yang memungkinkan udara dari luar masuk juga dapat disumbat apabila diperlukan.

Kedua, apabila mata terasa gatal atau perih akibat paparan abu vulkanik, masyarakat diminta tidak menguceknya. Mata dapat segera dibilas menggunakan air bersih atau steril.

Ketiga, masyarakat perlu segera membersihkan diri setelah berada di luar ruangan. Pakaian yang terpapar abu vulkanik sebaiknya dilepas dan dimasukkan ke dalam kantong tertutup agar debu tidak menyebar, kemudian dilanjutkan dengan mandi hingga bersih.

Masyarakat yang berada di wilayah dengan risiko paparan juga dianjurkan menyiapkan emergency kit atau perlengkapan perlindungan diri.

Perlengkapan tersebut antara lain kacamata pelindung atau goggles yang menutup rapat area mata, masker penyaring partikel mikroskopis seperti N95, serta pakaian tertutup untuk melindungi permukaan kulit.

Baca Juga:  Gunung Anak Krakatau Level Waspada, Polda Banten Ingatkan Batas Aman

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti penderita asma, anak-anak, bayi, dan lansia. Persediaan obat-obatan rutin, termasuk inhaler bagi mereka yang membutuhkannya, perlu disiapkan untuk mengantisipasi gangguan pernapasan.

dr. Venny mengimbau masyarakat tidak panik dan tetap mengikuti perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau melalui informasi dari sumber resmi.

Selain itu, proses pembersihan lingkungan setelah paparan abu vulkanik perlu dilakukan secara hati-hati. Penggunaan sapu atau alat peniup debu sebaiknya dihindari karena dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.

Permukaan yang tertutup abu vulkanik dapat dibersihkan menggunakan lap basah atau vacuum cleaner. Masyarakat juga dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mulai mengalami gejala gangguan pernapasan yang mengkhawatirkan. (*/Pr/B1)