Bicaraindonesia.id, Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merevitalisasi 1.487 satuan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang 2026. Program tersebut mendapat alokasi anggaran Rp1.208.684.805.539 atau lebih dari Rp1,2 triliun.

Jumlah satuan pendidikan yang menjadi sasaran revitalisasi pada 2026 meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Cakupan tersebut juga menjadi yang terbesar yang pernah dilaksanakan pemerintah di NTT.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan NTT menjadi salah satu wilayah yang diprioritaskan dalam program revitalisasi karena terdapat sejumlah sekolah yang berada di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T).

“Revitalisasi tersebut juga merupakan bagian dari upaya memenuhi arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pelaksanaan Wajib Belajar 13 Tahun,” terang Abdul Mu’ti dalam siaran tertulisnya dikutip Bicaraindonesia.id pada Sabtu (12/9/2026).

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kemendikdasmen mengidentifikasi dan memetakan sekolah berdasarkan tingkat kebutuhan untuk menentukan prioritas penanganan. Salah satu penerima program tersebut adalah SD Negeri Mboeng di Kabupaten Manggarai Timur, NTT.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI) Gogot Suharwoto menegaskan setiap anak berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang aman dan layak, termasuk mereka yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan sarana pendidikan.

“Pada 2026, sebanyak 1.487 satuan pendidikan di Nusa Tenggara Timur menjadi sasaran revitalisasi dengan dukungan anggaran lebih dari Rp1,2 triliun,” kata Gogot.

Berdasarkan data Kemendikdasmen per 7 September 2026, penerima revitalisasi tersebar di seluruh jenjang pendidikan. Sekolah dasar (SD) menjadi penerima terbanyak dengan 644 sekolah dan anggaran Rp702,88 miliar.

Selanjutnya, revitalisasi mencakup 603 PAUD dengan anggaran Rp232,46 miliar, 136 SMP senilai Rp161,51 miliar, dan 69 SMA dengan anggaran Rp72,71 miliar.

Dukungan juga diberikan kepada 13 SMK senilai Rp12,16 miliar, 14 SLB sebesar Rp21,72 miliar, serta delapan PKBM/SKB dengan anggaran Rp5,25 miliar.

Program revitalisasi tersebut melanjutkan dukungan pemerintah pada 2025. Saat itu, sebanyak 580 satuan pendidikan di NTT menerima dukungan melalui program revitalisasi dan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) dengan total anggaran sekitar Rp603,5 miliar.

Pada 2025, revitalisasi mencakup 43 PAUD dengan anggaran Rp15,83 miliar, 234 SD sebesar Rp160,73 miliar, 174 SMP sebesar Rp248,58 miliar, 64 SMA senilai Rp75,96 miliar, 44 SMK sebesar Rp64,75 miliar, sembilan SLB senilai Rp16,47 miliar, serta delapan SKB/PKBM dengan anggaran Rp6,9 miliar.

Pada tahun yang sama, pemerintah juga mendukung pembangunan empat Unit Sekolah Baru (USB) di NTT dengan total anggaran sekitar Rp14,3 miliar. Pembangunan tersebut terdiri atas tiga satuan PAUD dan satu SMA yang berada di Kabupaten Malaka, Timor Tengah Utara, dan Sumba Barat.

Pembangunan USB melengkapi program revitalisasi untuk memperluas akses sekaligus menghadirkan layanan pendidikan yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya di wilayah yang masih mengalami keterbatasan sarana pendidikan.

Menurut Gogot, revitalisasi sarana dan prasarana merupakan salah satu bagian dari ekosistem peningkatan mutu pendidikan. Intervensi tersebut berjalan beriringan dengan digitalisasi pembelajaran, peningkatan kapasitas guru, serta berbagai program peningkatan kualitas proses belajar mengajar.

Pada 2025, dukungan digitalisasi pembelajaran di NTT telah menjangkau 8.985 satuan pendidikan dengan nilai bantuan lebih dari Rp297,27 miliar.

Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang belajar yang aman dan nyaman. Namun, di saat yang sama mereka juga berhak mendapatkan akses terhadap pembelajaran yang semakin berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman.

“Karena itu, revitalisasi dan digitalisasi bukanlah pilihan salah satu. Keduanya berjalan bersama untuk mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua, termasuk bagi anak-anak di Nusa Tenggara Timur,” ujarnya. (*/Sp/A1)