Bicaraindonesia.id, Jakarta – Operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memasuki hari ke-48. Sebanyak 12.880 personel gabungan masih dikerahkan untuk memadamkan api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke wilayah lain.

Personel gabungan tersebut terdiri dari Manggala Agni Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Masyarakat Peduli Api (MPA), sukarelawan, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), pemerintah daerah, masyarakat, serta unsur terkait lainnya.

Kemenhut mengerahkan 758 personel Manggala Agni yang tersebar di empat provinsi. Sebanyak 265 personel berada di Kalimantan Barat, 208 personel di Kalimantan Tengah, 174 personel di Kalimantan Selatan, dan 111 personel di Kalimantan Timur.

Kekuatan tersebut ditambah 45 personel Manggala Agni dari Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan Selatan melalui Bantuan Kendali Operasi (BKO). Tambahan personel difokuskan ke wilayah yang masih membutuhkan penanganan intensif, terutama Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Berdasarkan data sementara, Kemenhut mencatat total luas karhutla di lima provinsi Kalimantan mencapai 57.088 hektare.

Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar, yakni 38.319 hektare. Selanjutnya Kalimantan Selatan 8.019 hektare, Kalimantan Tengah 7.635 hektare, Kalimantan Timur 2.715 hektare, dan Kalimantan Utara 400 hektare.

Baca Juga:  Prabowo Apresiasi Satgas PKH Selamatkan 6,2 Juta Hektare Hutan

Data tersebut masih diperbarui dan diverifikasi seiring perkembangan penanganan di lapangan.

Operasi dilakukan melalui pemadaman darat yang diperkuat dukungan udara. Manggala Agni bersama MPA, sukarelawan, masyarakat, dan unsur gabungan melakukan pemadaman, pembasahan, serta pendinginan untuk mencegah api kembali muncul.

Kawasan gambut menjadi salah satu tantangan utama karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat proses pembasahan dan pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh agar api tidak kembali menyala.

Dukungan udara juga dilakukan melalui patroli dan water bombing di sejumlah lokasi yang membutuhkan.

Selain pemadaman, pemerintah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang hujan di wilayah yang membutuhkan. Hingga kini, OMC telah dilakukan sebanyak 45 kali penerbangan dengan total 45 ton bahan semai.

Lamanya operasi membuat kondisi personel menjadi perhatian. Rotasi dilakukan untuk menjaga kondisi fisik petugas yang telah bekerja selama berminggu-minggu di lapangan.

Dukungan peralatan, logistik, posko komando, dan layanan kesehatan juga diperkuat. Di sejumlah lokasi, tim membuat sumur bor sementara untuk mendekatkan sumber air ke titik pemadaman.

Baca Juga:  Prabowo Apresiasi Satgas PKH Selamatkan 6,2 Juta Hektare Hutan

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, mengatakan operasi masih terus diperkuat di wilayah yang membutuhkan penanganan intensif.

“Operasi belum selesai. Pemadaman darat dan udara terus berjalan, terutama di lokasi yang membutuhkan penanganan panjang. Kami menambah 45 personel Manggala Agni, melakukan rotasi petugas, serta memperkuat sumber air, peralatan, logistik, dan layanan kesehatan,” ujar Yudho dalam siaran tertulisnya di Jakarta dikutip Bicaraindonesia.id pada Sabtu (22/8/2026).

Ia mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur yang selama berminggu-minggu bekerja bersama dalam penanganan karhutla.

“Kami mengapresiasi Masyarakat Peduli Api, sukarelawan, TNI, Polri, BPBD, DLHK, pemerintah daerah, dan masyarakat yang sudah berminggu-minggu bekerja bersama Manggala Agni di lapangan. Menjaga Kalimantan dari kebakaran bukan pekerjaan satu institusi,” tuturnya.

Di tengah operasi pemadaman yang telah berlangsung 48 hari, pencegahan juga terus diperkuat. Patroli darat dan udara dilakukan untuk menemukan potensi kebakaran sedini mungkin.

Baca Juga:  Prabowo Apresiasi Satgas PKH Selamatkan 6,2 Juta Hektare Hutan

MPA, sukarelawan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam sistem pencegahan karena berada dekat dengan wilayah rawan dan dapat memberikan informasi awal ketika menemukan api maupun asap.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengatakan keberhasilan operasi tidak hanya diukur dari jumlah titik api yang berhasil dipadamkan, tetapi juga dari kemampuan melindungi masyarakat dan menjaga kondisi personel di garis depan.

“Empat puluh delapan hari operasi menunjukkan beratnya pekerjaan menghadapi karhutla. Yang paling utama adalah melindungi masyarakat dan mencegah api meluas, tetapi kita juga harus menjaga orang-orang yang sudah berminggu-minggu berada di garis depan,” tegas dia.

“Personel perlu dirotasi, kesehatannya dijaga, logistiknya dipastikan, dan kekuatannya ditambah ketika diperlukan,” imbuhnya.

Menurut dia, pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

“Perusahaan, pengelola kawasan, pemerintah daerah dan desa, serta masyarakat perlu meningkatkan penjagaan. Semakin banyak kebakaran yang bisa kita cegah sejak awal, semakin kecil risiko yang harus ditanggung masyarakat dan lingkungan,” tandasnya. (*/Sp/A1)