Bicaraindonesia.id, Manggarai – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) terus memperkuat penanganan dan evakuasi korban pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WITA.
Gempa tersebut berdampak di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai. Hingga Sabtu pukul 17.20 WITA, kepolisian melaporkan data sementara sebanyak 21 orang meninggal dunia. Proses pencarian dan evakuasi masih berlangsung, terutama di Kecamatan Reok yang mengalami dampak cukup parah.
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko melalui Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra mengatakan, personel kepolisian bersama unsur terkait terus berada di lapangan untuk membantu evakuasi, mengamankan lokasi terdampak, mendata korban, serta menangani masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
“Saat ini personel Polri terus bersinergi dengan pemerintah daerah, TNI, Basarnas, tenaga kesehatan dan seluruh unsur terkait untuk melakukan evakuasi serta memberikan pelayanan dan bantuan kepada masyarakat terdampak,” ujar Kombes Pol Henry dalam keterangan tertulisnya dikutip Bicaraindonesia.id pada Sabtu (15/8/2026).
Berdasarkan pendataan sementara, korban meninggal dunia tersebar di sejumlah wilayah. Sebanyak tiga korban meninggal dunia tercatat di RSUD Ruteng dan dua korban di Kecamatan Langke Rembong.
Jumlah korban meninggal dunia terbanyak sementara tercatat di Kecamatan Reok, yakni 10 orang. Kemudian Kecamatan Reok Barat sebanyak empat orang, Kecamatan Cibal satu orang, dan Kecamatan Cibal Barat satu orang.
Kombes Henry meminta seluruh personel di lapangan mengutamakan keselamatan masyarakat dalam setiap proses evakuasi.
“Kondisi di sejumlah lokasi masih berisiko karena terdapat bangunan yang roboh dan kemungkinan korban masih berada di bawah reruntuhan. Karena itu, proses pencarian dan evakuasi harus dilakukan secara hati-hati, terukur dan terkoordinasi,” tegas dia.
Polri juga melakukan pengamanan di sejumlah lokasi terdampak untuk mencegah masyarakat mendekati bangunan yang rusak dan berpotensi roboh susulan.
Selain membantu proses evakuasi, personel kepolisian mengatur arus lalu lintas, mengamankan fasilitas umum, mendata dampak bencana, serta memastikan pelayanan kepada korban berlangsung aman dan tertib.
Gempa bumi juga dilaporkan menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 351 fasilitas di Kabupaten Manggarai. Kerusakan meliputi fasilitas pemerintah, pendidikan, fasilitas umum, tempat ibadah, dan fasilitas masyarakat.
Sejumlah fasilitas pemerintah mengalami kerusakan berat, antara lain Kantor Bupati Manggarai, Kantor Dukcapil, Kantor Inspektorat, RSUD Ruteng, Dinas Koperasi UKM dan Naketrans, Puskesmas Reo, serta Kantor Los Uji Kir.
Sementara itu, Kantor Sekretariat DPRD mengalami kerusakan sedang dan Tourist Information Center mengalami kerusakan ringan.
Pada sektor pendidikan, Kampus Unika St. Paulus Ruteng dan SMA Budi Luhur Cancar dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Sejumlah fasilitas umum juga mengalami kerusakan berat, di antaranya SPBU Carep, Kantor Bank NTT, ruas Jalan Iteng–Rego, Terminal Reo, dan RS St. Rafael Cancar. Terminal Karot dan SPPG Nao di Kecamatan Satar Mese Utara mengalami kerusakan ringan.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah tempat ibadah. Gereja Paroki Fransiskus Asisi Karot dan Kapela Novisiat SMM mengalami kerusakan berat, sedangkan Gereja Paroki Roh Kudus Rua mengalami kerusakan sedang.
Dampak terbesar tercatat pada fasilitas masyarakat dengan total 330 fasilitas. Rinciannya, 290 fasilitas rusak berat, delapan rusak sedang, dan 32 rusak ringan.
Kondisi RSUD Ruteng juga masih membutuhkan perhatian serius. Sebanyak 165 pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang didirikan di pelataran RSUD Ruteng dan sepanjang jalan di depan rumah sakit.
Personel kepolisian terus membantu pengamanan dan pengaturan situasi di sekitar RSUD Ruteng agar pelayanan kesehatan serta mobilitas tenaga medis dan pasien tetap berjalan.
Kepolisian mengingatkan jumlah korban meninggal dunia masih dapat bertambah karena proses evakuasi bangunan roboh, terutama di Kecamatan Reok, masih berlangsung.
Tim gabungan terus melakukan pencarian dan evakuasi dengan mengutamakan keselamatan petugas dan masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, namun tetap waspada terhadap gempa susulan maupun potensi bahaya dari bangunan yang telah mengalami kerusakan,” kata Kombes Henry.
Kabid Humas Polda NTT juga mengajak seluruh elemen masyarakat membantu warga terdampak serta menjaga keamanan dan ketertiban selama masa tanggap darurat.
“Kepolisian hadir bersama masyarakat. Kami memastikan personel terus dikerahkan untuk membantu evakuasi, pengamanan, pelayanan dan pendistribusian bantuan,” pungkasnya. (*/Hms/A1)

Tinggalkan Balasan