Bicaraindonesia.id, Surabaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar Pasar Murah Serentak dan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 31 kecamatan, Rabu (12/8/2026). Kegiatan ini bertujuan menyediakan kebutuhan pangan dengan harga terjangkau sekaligus membantu menekan inflasi.

Salah satu kegiatan berlangsung di wilayah Penjaringansari dengan melibatkan pelaku UMKM dan kelompok tani setempat. Sejumlah komoditas pangan dijual dengan harga di bawah pasaran, sementara bahan pokok seperti beras dan minyak mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET).

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma mengatakan, tingginya antusiasme warga menunjukkan kegiatan tersebut mendapat respons positif.

Menurutnya, komoditas yang ditawarkan memiliki harga lebih rendah dibandingkan pasaran, sementara bahan pokok seperti beras dan minyak dijual dengan mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Antusiasme masyarakat dalam kegiatan ini cukup tinggi karena komoditas yang dijual memang harganya di bawah harga pasar,” kata Vykka dalam keterangan tertulis dikutip pada Kamis (13/8/2026).

Baca Juga:  Jatim Kirim 116 Kafilah, Target Juara Umum MTQ Nasional XXXI

Selain bahan pokok, kegiatan tersebut menghadirkan komoditas hasil produksi kelompok tani dan pelaku UMKM. Salah satunya ikan lele yang dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram melalui kelompok tani. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan harga di pasaran yang berada di kisaran Rp26 ribu-Rp27 ribu per kilogram.

Vykka menyebut selisih harga tersebut cukup berarti bagi masyarakat, khususnya warga dengan keterbatasan daya beli. Kegiatan itu juga dimanfaatkan pelaku usaha kuliner untuk mendapatkan bahan baku.

“Bukan hanya warga yang membeli. Ada juga penjual penyetan yang ikut membeli, sehingga kegiatan seperti ini cukup membantu,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya Nanik Sukristina mengatakan GPM kali ini dikolaborasikan dengan pasar murah yang digelar Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag). Seluruh kegiatan berlangsung serentak di 31 kecamatan.

Komoditas yang disediakan meliputi beras SPHP sebanyak 17.000 kilogram atau 3.400 sak, Minyakita 8.160 liter, dan gula sebanyak 2.400 kilogram.

Baca Juga:  Sempat Kabur dan Diteriaki "Copet", Pengedar 3.000 Pil Koplo Ditangkap

Sementara di titik GPM Kecamatan Rungkut, tersedia bawang merah 18 kilogram, bawang putih 14 kilogram, cabai rawit 7,5 kilogram, cabai merah besar 9,75 kilogram, serta telur ayam ras 70 kilogram.

Nanik menjelaskan bahan pangan tersebut disediakan melalui kolaborasi dengan Bulog dan sejumlah distributor. Harga yang ditawarkan dibuat lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.

Minyakita, misalnya, dijual sekitar Rp15.500 per liter, sedangkan SPHP sekitar Rp58 ribu.

“Minyak menjadi salah satu komoditas yang paling banyak dicari karena selisih harganya dengan harga di pasaran cukup jauh. Untuk telur, harga yang ditawarkan sekitar Rp22 ribu per kilogram, sementara harga di pasaran berada di kisaran Rp26 ribu per kilogram,” jelasnya.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan Kota Surabaya (Dinkopumdag) Kota Surabaya Mia Santi Dewi mengatakan pasar murah tidak hanya digelar untuk mendekatkan akses pangan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu langkah Pemkot Surabaya dalam menekan inflasi.

Baca Juga:  SAR KM Virgo Transport 8 Diperkuat, Polri Siapkan Enam Posko DVI

Menurut Mia, kegiatan tersebut akan digelar secara rutin setiap bulan hingga Desember 2026. Dalam pelaksanaannya, satu kecamatan menjadi titik GPM, sedangkan 30 kecamatan lainnya menggelar pasar murah secara serentak.

“Komoditas utama yang disediakan dalam pasar murah yakni beras SPHP, Minyakita, dan gula. Pemkot Surabaya juga membuka ruang bagi UKM, kegiatan padat karya, hingga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KKMP) untuk ikut berpartisipasi,” ujar Mia.

Mia mengatakan harga beras SPHP dan Minyakita dipastikan maksimal sesuai HET dan dapat ditekan di bawah HET jika memungkinkan. Namun, khusus minyak, harga tetap mempertimbangkan ketersediaan stok dari Bulog.

“Kita memastikan beras SPHP dan Minyakita dijual maksimal sesuai HET, atau kalau memungkinkan di bawah HET. Ini untuk memberikan kepastian harga kepada masyarakat,” tutupnya. (*/Pr/C1)