Bicaraindonesia.id, Jakarta – Pemerintah mengajak media massa memperkuat perannya dalam menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan cepat guna menangkal penyebaran hoaks, khususnya terkait maraknya video aksi demonstrasi yang beredar di media sosial menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyebut, kecepatan media dalam menyampaikan informasi yang benar menjadi salah satu kunci untuk mencegah penyebaran disinformasi yang dapat membingungkan dan meresahkan masyarakat.
“Teman-teman media silakan meliput dan memberitakan yang benar dengan cepat agar tidak memberi ruang kepada disinformasi yang masuk,” kata Meutya saat memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat seperti dikutip pada Rabu (5/8/2026).
Menjelang HUT RI, media sosial diramaikan dengan berbagai video aksi demonstrasi yang diunggah tanpa mencantumkan waktu kejadian.
Sejumlah unggahan juga disertai narasi yang menggambarkan seolah-olah terjadi aksi demonstrasi besar yang tidak mendapat pemberitaan, bahkan ada yang menuding konten mengenai peristiwa tersebut sengaja dihapus.
Meutya menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan, berbagai konten hoaks masih terus diproduksi dengan pola yang semakin beragam. Sebagian merupakan informasi yang sepenuhnya tidak benar, sementara sebagian lainnya menggunakan rekaman lama yang disebarkan kembali dengan konteks berbeda atau memanfaatkan peristiwa di luar negeri yang diklaim seolah terjadi di Indonesia.
“Teman-teman harus melihat videonya. Ada yang betul-betul hoaks karena kejadiannya tidak pernah ada. Ada yang menggunakan gambar lama dengan konteks yang berbeda. Ada pula yang menggabungkan kejadian di negara lain seolah-olah terjadi di Indonesia,” jelasnya.
Ia menilai media memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas informasi publik melalui praktik jurnalistik yang mengedepankan verifikasi dan akurasi.
Menurutnya, pemberitaan yang cepat dan tepat dapat mencegah masyarakat terpapar narasi palsu yang sengaja dibuat untuk memicu ketakutan maupun keresahan.
“Informasi yang benar adalah tanggung jawab bersama. Media memiliki peran penting untuk memastikan masyarakat mendapatkan fakta, bukan informasi yang sengaja dibuat untuk menimbulkan ketakutan,” ujar Meutya.
Selain mengajak media, Menkomdigi juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan video aksi demonstrasi yang belum terverifikasi dan banyak beredar di media sosial.
Berdasarkan hasil pemantauan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sejumlah video yang kembali viral merupakan rekaman lama yang diunggah ulang tanpa penjelasan mengenai waktu maupun konteks kejadian sehingga berpotensi menyesatkan publik.
Meutya mengatakan, penyebaran kembali konten lama yang dikemas seolah-olah sebagai peristiwa baru dapat membentuk persepsi keliru, memperkeruh situasi, serta memicu disinformasi di ruang digital.
“Penyebaran informasi palsu bukan hanya persoalan konten digital. Karena informasi hoaks itu berdampak pada keputusan orang per orang dari hari per hari. Ada yang jadi takut keluar, ada yang khawatir ketika bekerja. Menurut saya hal itu tidak tepat, tidak benar, dan mencederai nilai-nilai demokrasi serta semangat nasionalisme di momen peringatan Hari Kemerdekaan,” papar Meutya.
Ia mengajak seluruh pihak, termasuk media dan masyarakat, bersama-sama menjaga ruang digital tetap sehat dengan mengedepankan informasi yang benar, terverifikasi, dan bermanfaat bagi publik.
Menurut dia, sikap bijak dalam menggunakan media sosial juga menjadi langkah penting untuk menghindari penyebaran hoaks maupun disinformasi.
“Maka saya mengimbau, jangan menyebarkan informasi palsu dengan tujuan membuat ketakutan di tengah masyarakat menggunakan data yang tidak benar,” tegas Meutya. (*/Pr/A1)

Tinggalkan Balasan