Bicaraindonesia.id, Denpasar Pemerintah mendorong pemulihan ekosistem mangrove tidak hanya sebagai upaya menjaga lingkungan, tetapi juga sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui mekanisme perdagangan karbon yang melibatkan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, saat puncak peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 di Pelabuhan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Kota Denpasar, Minggu (26/7/2026).

Menurut Jumhur, pemulihan lingkungan mampu memberikan manfaat ganda, yakni menjaga kelestarian alam sekaligus menciptakan nilai ekonomi, membuka lapangan pekerjaan hijau (green jobs), dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menjelaskan, mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon yang sangat tinggi, bahkan mencapai empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan tanaman lainnya. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi modal penting dalam pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.

“Saat ini di seluruh dunia emisi global terus meningkat yang terjadi karena kegiatan ekonomi. Untuk itu diperlukan upaya untuk mengurangi karbon. Sehingga karbon tersebut harus di-offset atau dikompensasi dengan banyaknya paru-paru di bumi agar bisa menghisap karbon tadi. Kegiatan mengurangi karbon itulah yang menjadi potensi ekonomi bisnis. Wajar kalau kita sekarang sangat serius dan peduli menanam mangrove,” kata Menteri Jumhur dalam keterangannya dikutip pada Senin (27/7/2026).

Ia mengungkapkan, selama ini penanaman mangrove masih banyak didukung pemerintah. Namun, ke depan upaya tersebut diharapkan berkembang melalui kolaborasi dengan dunia usaha dan investor sebagai bagian dari kegiatan ekonomi berbasis lingkungan.

Melalui mekanisme pasar karbon, kawasan mangrove yang dipulihkan dapat menghasilkan nilai ekonomi dari kemampuan menyerap karbon. Masyarakat lokal yang terlibat dalam penanaman dan pemeliharaan mangrove juga akan memperoleh manfaat dari skema tersebut.

“Lalu ketika karbon itu dijual, mereka (pekerja tapak-warga lokal) juga akan mendapatkan benefit sharing dari hasil penjualan karbon tersebut. Jadi menanam mangrove adalah kegiatan yang menguntungkan,” ujar Menteri Jumhur.

Saat ini, KLH/BPLH terus menghitung potensi ekonomi dari kegiatan menjaga, memelihara, dan memulihkan lingkungan melalui mekanisme pasar karbon.

Pemerintah berharap gerakan pemulihan lingkungan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan hijau.

Senada dengan itu, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengatakan, pemerintah terus mendorong pengembangan skema perdagangan karbon di kawasan mangrove dengan melibatkan masyarakat agar manfaat ekonomi dari pengelolaan lingkungan dapat dirasakan langsung oleh warga sekitar.

“Kami mendorong banyak skema perdagangan karbon di kawasan mangrove yang melibatkan masyarakat sehingga benefit-nya juga kembali kepada masyarakat,” ungkap Wamen Rohmat. (*/Pr/B1)