Bicaraindonesia.id, Surabaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis meski dalam lima tahun terakhir tidak ditemukan kasus suspek flu burung maupun antraks pada manusia.

Langkah ini dilakukan karena ancaman penyakit yang menular dari hewan ke manusia masih dinilai nyata, terutama dengan masih ditemukannya kasus suspek leptospirosis dan gigitan hewan penular rabies (GHPR) yang terjadi secara fluktuatif.

Sebagai upaya pencegahan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Kementerian Kesehatan RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), dan Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (Pokja RCCE) menggelar Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis pada 21-22 Juli 2026 di Puskesmas Medokan Ayu.

Lokakarya tersebut diikuti perangkat daerah, lembaga kesehatan, organisasi kemasyarakatan, Palang Merah Indonesia (PMI), puskesmas, puskeswan, hingga insan media. Kegiatan ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan komunikasi risiko, serta membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi wabah zoonosis.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Atiek Tri Arini, M.Kes, mengatakan pihaknya secara rutin menerbitkan surat edaran setiap memasuki musim hujan kepada UPT, kecamatan, dan kelurahan terkait potensi penyakit yang berisiko muncul akibat banjir.

“Jadi kalau kita musim penghujan ini selalu kita buat edaran ke semuanya, UPT, kecamatan, kelurahan bahaya banjir dan penyakit-penyakit yang bisa disebabkan terkait banjir ini,” ujar Atiek dalam Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis di Puskesmas Medokan Ayu, Selasa (21/7/2026).

Selain itu, masyarakat diimbau melindungi diri saat beraktivitas di kawasan banjir dengan menggunakan alas kaki serta segera membersihkan tubuh setelah terkena air banjir maupun air hujan.

Baca Juga:  Bikin Warga Lega! Pasar Murah Surabaya Digelar di 31 Kecamatan

“Jadi kita menyampaikan (surat edaran) kalau misalnya keluar di area banjir jangan sampai kaki tidak terlindungi. Ketika kita terkena air hujan segera cuci. Jadi tadi disampaikan bahwa (cuci tangan) kebiasaan ringan tapi dampaknya itu luar biasa,” katanya.

Atiek menuturkan, kebiasaan mencuci tangan terus disosialisasikan mulai dari anak usia PAUD, pelajar hingga kalangan akademisi karena menjadi salah satu langkah sederhana yang efektif mencegah penularan penyakit.

“Kadang-kadang karena kita sering lupa (cuci tangan). (Padahal) dari satu perilaku kecil yang kita ulang berkali-kali, dampaknya luar biasa begitu,” tuturnya.

Selain menjaga kebersihan diri, Atiek menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, tikus sebagai hewan pembawa bakteri penyebab leptospirosis tetap ada meski bukan musim hujan.

“Nah, kalau pada masa tenang ini tikus itu kan tidak hanya hidup di waktu penghujan. Jadi selama tidak hujan juga dia ada. Jadi tetap kebersihan yang harus dijaga. Kenapa? karena tikus itu sukanya di tempat yang rungsep-rungsep (kotor),” jelasnya.

Ia mengingatkan urine tikus yang mengenai luka terbuka dapat menjadi jalan masuk bakteri penyebab leptospirosis ke dalam tubuh. Karena itu, masyarakat diminta tidak membiarkan lingkungan menjadi sarang tikus.

“Jadi kalaupun misalnya enggak hujan kalau itu ada kencingnya tikus, kita kena dan ketika kulit kita tidak intak, ada luka, ada apapun, itu bisa masuk yang namanya leptospirosis. Jadi jagalah kebersihan jangan sampai menjadi sarang tikus dan basmilah sarang tikus itu sendiri begitu,” tegasnya.

Atiek juga meminta masyarakat mengenali gejala awal leptospirosis. Menurutnya, penyakit tersebut umumnya diawali demam, nyeri di seluruh tubuh, dan jarang disertai batuk maupun pilek. Jika kondisi berlanjut hingga mengalami gangguan buang air kecil, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke rumah sakit.

Baca Juga:  Polisi Bongkar Produksi Tembakau Sintetis di Kamar Kos

“Gejala memang hampir sama biasanya didahului dengan panas. Kalau leptospirosis jarang batuk pilek ya, jarang batuk pilek biasanya badannya sakit semua, terus mulai enggak bisa kencing. Nah itu mulai harus diwaspadai harus segera ke rumah sakit,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Moch. Ashadi M, mengatakan kesiapsiagaan harus dibangun sebelum terjadi kedaruratan kesehatan.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan dan sistem surveilans, tetapi juga komunikasi risiko yang cepat, transparan, tepat sasaran, dan dipercaya masyarakat.

“Dinas Kesehatan Kota Surabaya terus memperkuat kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis melalui peningkatan kemampuan surveilans, koordinasi dengan sektor kesehatan hewan dan lingkungan, serta pengawasan terhadap unggas dan pasar unggas sebagai langkah pencegahan,” ujarnya.

Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR) periode 2021 hingga Minggu ke-27 tahun 2026, Surabaya belum mencatat adanya suspek flu burung maupun antraks pada manusia.

Meski demikian, tren penyakit zoonosis lainnya masih menjadi perhatian. Pada 2025 tercatat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus gigitan hewan penular rabies. Sementara hingga Minggu ke-27 tahun 2026 telah dilaporkan 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus GHPR.

Pemkot Surabaya mengimbau masyarakat tidak panik karena Surabaya bukan daerah endemis rabies. Pemerintah menilai penguatan surveilans, edukasi masyarakat, dan koordinasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk mencegah potensi kejadian luar biasa sejak dini.

Mewakili Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, drh. Wafiroh mengatakan sebagian besar penyakit zoonosis dapat dicegah apabila masyarakat memahami cara penularannya.

Baca Juga:  Soekarno Cup 2026 Dimulai, 16 Provinsi Berebut Gelar di Jatim

Rabies dapat dicegah melalui vaksinasi rutin hewan peliharaan setiap tahun. Sementara leptospirosis yang kerap meningkat saat musim hujan dapat diminimalkan dengan menghindari kontak dengan air yang tercemar urine tikus serta menggunakan alas kaki tertutup saat beraktivitas di area berisiko.

Masyarakat juga diminta menghindari kontak dengan unggas yang sakit atau mati mendadak karena berpotensi menularkan flu burung. Selain itu, daging dan telur unggas harus dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.

Untuk mencegah antraks, warga diimbau tidak menyembelih maupun mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak serta segera melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya.

Program Manager Portal Kesehatan Masyarakat, dr. Basra Ahmad Amru, mengatakan penguatan kesiapsiagaan zoonosis tidak hanya dilakukan di Surabaya, tetapi juga di Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Malang.

Menurutnya, koordinasi lintas sektor menjadi fondasi utama agar respons terhadap ancaman wabah dapat dilakukan secara cepat dan terintegrasi. “Jangan sampai ketika wabah penyakit muncul, kita tidak siap,” tegasnya.

Di sisi lain, Ketua Pokja RCCE, Rizky Ika Syafitri, menilai penyebaran informasi yang akurat memiliki peran penting dalam mencegah kepanikan sekaligus mendorong masyarakat menerapkan perilaku hidup sehat.

Ia menegaskan selain tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan media juga memiliki tanggung jawab memastikan informasi kesehatan yang benar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga upaya pencegahan wabah dapat dilakukan secara efektif sejak dini. (*/Dap/A1)