Bicaraindonesia.id, Surabaya – Guru Besar ke-249 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ipung Fitri Purwanti mengembangkan teknologi bioremediasi berbasis bakteri untuk memulihkan lingkungan yang tercemar oleh berbagai jenis kontaminan. Bioremediasi tersebut merupakan metode pemulihan lingkungan yang memanfaatkan mikroorganisme.
Selama lebih dari dua dekade menekuni bidang remediasi lingkungan, Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS itu mengembangkan berbagai penelitian yang berfokus pada pemulihan tanah, air, hingga udara tercemar menggunakan bakteri biasa maupun bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman.
Riset yang dikembangkannya diawali dengan mengisolasi bakteri yang secara alami hidup di lokasi tercemar. Setelah diisolasi dan dikembangkan di laboratorium, bakteri tersebut dimanfaatkan kembali untuk menguraikan polutan pada lokasi lain yang memiliki karakteristik pencemaran serupa.
“Proses ini lebih efektif karena memanfaatkan mikroorganisme yang telah beradaptasi dengan lingkungan tercemar,” jelas Ipung-sapaan lekat Prof Ipung Fitri Purwanti, dalam siaran tertulisnya dikutip pada Selasa (21/7/2026).
Dalam penelitiannya, Ipung memanfaatkan sejumlah jenis bakteri, yakni Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus gallinarum.
Dari beberapa bakteri tersebut, Staphylococcus gallinarum menjadi temuan yang paling menonjol karena berhasil diisolasi dari tanah yang tercemar limbah kerosin hasil pengolahan aspal.
“Bakteri tersebut memiliki kemampuan resistensi dan degradasi yang lebih baik dibandingkan beberapa bakteri lain,” ungkapnya.
Selain menguji efektivitas bakteri tunggal, alumnus S1 Teknik Lingkungan ITS itu juga mengembangkan metode konsorsium bakteri dengan mengombinasikan beberapa jenis bakteri untuk mengetahui efektivitas proses remediasi.
Menurut Ipung, penggunaan kombinasi bakteri tidak selalu menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan penggunaan satu jenis bakteri. Efektivitasnya bergantung pada kemampuan masing-masing mikroorganisme untuk saling bersinergi dan beradaptasi terhadap jenis polutan yang ditangani.
Hingga saat ini, hasil penelitian tersebut telah diuji pada skala laboratorium maupun di sejumlah lokasi lapangan, termasuk kawasan kilang minyak di Sumatra. Pengujian itu menunjukkan bahwa bakteri mampu menurunkan kadar pencemar hidrokarbon pada tanah.
Ipung menambahkan, teknologi bioremediasi tidak hanya efektif menangani pencemar organik seperti minyak bumi, tetapi juga memiliki potensi untuk diaplikasikan dalam penanganan pencemar anorganik, termasuk logam berat.
Melalui pengembangan teknologi bioremediasi berbasis bakteri tersebut, Ipung berharap hasil risetnya dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam mengatasi berbagai persoalan pencemaran lingkungan. (*/Pr/B1)

Tinggalkan Balasan