Bicaraindonesia.id, Jakarta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan pentingnya memperkuat literasi digital dan kolaborasi lintas sektor untuk mencegah penyebaran paham radikalisme serta ekstremisme berbasis kekerasan yang kini semakin masif di ruang digital.

Anak-anak dan remaja Indonesia saat ini tumbuh di era digital dengan akses informasi yang nyaris tanpa batas melalui telepon genggam. Di balik kemudahan tersebut, terdapat ancaman berupa propaganda ekstremisme berbasis kekerasan, ujaran kebencian, hingga ajakan bergabung dengan kelompok radikal yang kini lebih banyak beredar melalui platform digital dibandingkan ruang fisik.

“Di tengah perkembangan teknologi digital bentuk ancaman terus berubah yang semakin adaptif dan persisten,” ujar Kepala BNPT Eddy Hartono dalam keterangan resmi dikutip pada Senin (20/7/2026).

Menurut Eddy, perubahan lanskap ancaman membuat strategi penanggulangan terorisme juga harus terus beradaptasi. Jika sebelumnya fokus utama berada pada pencegahan aksi teror, kini penguatan ketahanan masyarakat agar tidak mudah terpapar paham radikal menjadi bagian yang sama pentingnya.

Momentum HUT ke-16 BNPT pada 16 Juli 2026 menjadi penegasan arah tersebut melalui tema “16 Tahun BNPT: Kolaborasi Jaga Indonesia”. Tema itu menekankan bahwa menjaga Indonesia dari ancaman radikalisme dan terorisme bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat negara, melainkan seluruh elemen bangsa.

Selama lebih dari satu dekade, BNPT mengembangkan strategi pencegahan dengan melibatkan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia usaha, media, hingga komunitas.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai program, seperti Sekolah Damai, Kampus Kebangsaan, Desa Siapsiaga, penguatan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), hingga pembentukan Satuan Tugas Kontra Radikalisasi lintas sektor.

“Penanggulangan terorisme memerlukan sinergi dan kolaborasi yang menganut prinsip whole of government and society approach, yaitu pendekatan menyeluruh yang melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat dalam mendukung asta cita Bapak Presiden Republik Indonesia yg dituangkan dalam RPJMN tahun 2025-2029,” ujarnya.

BNPT menegaskan fokus pencegahan tidak hanya menghentikan penyebaran paham radikal, tetapi juga membangun masyarakat yang tangguh melalui peningkatan literasi digital, penguatan wawasan kebangsaan, serta pemberdayaan sosial ekonomi.

Di Kabupaten Cirebon, misalnya, program Desa Siapsiaga mengembangkan budidaya ikan lele dengan sistem bioflok. Program tersebut membuka peluang usaha bagi masyarakat sekaligus memperkuat kohesi sosial melalui kegiatan ekonomi produktif.

Ketahanan ekonomi yang semakin baik diharapkan dapat mempersempit ruang berkembangnya pengaruh kelompok radikal yang kerap memanfaatkan kerentanan sosial masyarakat.

Pendekatan serupa diterapkan di Menes, Kabupaten Pandeglang. Berkolaborasi dengan PLN Indonesia Power dan pemerintah daerah, BNPT membangun workshop produksi paving blok berbahan limbah *Fly Ash and Bottom Ash* (FABA).

Program tersebut tidak hanya menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah limbah industri, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat berjalan seiring dengan penguatan ketahanan terhadap pengaruh ekstremisme.

BNPT menilai pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa pencegahan terorisme tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan. Masyarakat yang memiliki akses terhadap pendidikan, pekerjaan, ruang partisipasi, dan kehidupan sosial yang sehat dinilai memiliki daya tahan lebih kuat terhadap infiltrasi paham radikal.

Di sisi lain, ruang digital kini menjadi medan baru yang membutuhkan perhatian serius. Media sosial telah menjadi sarana utama penyebaran propaganda dan disinformasi oleh kelompok ekstrem.

Karena itu, kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis, memverifikasi informasi, serta menggunakan media digital secara bijak menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan bangsa.

Selama 16 tahun perjalanannya, BNPT menyatakan strategi penanggulangan terorisme terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Pendekatan yang semula berfokus pada penegakan hukum kini semakin diperkuat melalui kolaborasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

BNPT menegaskan menjaga Indonesia bukan hanya mencegah aksi teror, tetapi juga memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan hidup aman, sejahtera, dan terlindungi dari pengaruh ideologi kekerasan.

“Melalui semangat kolaborasi jaga indonesia mari kita perkuat sinergi antarlembaga dunia pendidikan, tokoh agama, media, dunia usaha, komunitas, serta seluruh masyarakat,” pungkas Eddy. (*/Pr/A1)