Bicaraindonesia.id, Jakarta Pemerintah memperkuat ekosistem ekonomi desa dengan mengintegrasikan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Langkah ini dilakukan untuk memperluas pemasaran produk desa sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi lokal melalui pengembangan desa tematik.

Hal tersebut disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, dalam keterangannya kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Yandri mengatakan Kementerian Desa terus berkoordinasi dengan 10 asosiasi desa sebagai mitra strategis untuk memastikan pelaksanaan program pemerintah berjalan optimal di seluruh Indonesia.

“Jadi 10 asosiasi desa ini menjadi mitra strategis Kementerian Desa untuk memastikan program Bapak Presiden melalui Asta Cita yang ke-6 itu benar-benar terlaksana, termasuk Koperasi Desa Merah Putih dan kami memang dari Asta Cita keenam itu ada 12 aksi bangun desa, di antara itu desa tematik,” ujar Yandri dalam keterangan persnya dikutip pada Jumat (17/7/2026)

Menurut Yandri, Kopdes/Kel Merah Putih nantinya berperan sebagai offtaker yang bekerja sama dengan BUMDes untuk menyerap sekaligus memasarkan hasil produksi masyarakat desa.

Dengan skema tersebut, koperasi tidak akan menggantikan maupun bersaing dengan BUMDes, melainkan saling melengkapi dalam memperkuat aktivitas ekonomi desa.

“Para petani sesuai dengan potensi desa masing-masing, karena jumlah desa banyak sekali 75.266, dengan berbagai potensi yang ada, tentu nanti masing-masing Kopdes bekerja sama dengan BUMDes memastikan semua produk desa itu sesuai dengan potensinya, akan dipastikan bisa mendapatkan manfaat bagi para penduduk desa,” jelas Yandri.

Ia menambahkan, seluruh potensi desa akan dimaksimalkan melalui operasional Kopdes/Kel Merah Putih. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, keuntungan koperasi juga akan memberikan manfaat langsung bagi pemerintah desa melalui pembagian hasil usaha.

“Nanti kalau sudah jalan, kami pasti akan maksimalkan fungsinya melalui potensi desa masing-masing, pasti. Apalagi yang dipakai kan dana desa dan apalagi nanti dari keuntungan itu ada 20 persen dari Kopdes itu akan menjadi pendapatan asli desa,” katanya.

“Jadi pemerintah desa dengan segala unsurnya punya kepentingan, Kopdes ini berhasil dan sukses karena ada efek positifnya kepada desa, termasuk sisanya yang 80 persen akan kembali ke rakyat di desa itu,” imbuhnya.

Selain penguatan koperasi, Yandri menyebut program desa tematik yang telah berjalan selama satu tahun juga menunjukkan hasil positif. Salah satunya, banyak BUMDes yang kini menjadi pemasok utama program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Banyak desa tematik ini menjadi penyuplai MBG, banyak. Jadi hampir seribu bahkan BUMDes itu menjadi penyuplai utama MBG,” ungkap Yandri.

Ke depan, pengembangan desa tematik akan disesuaikan dengan potensi unggulan masing-masing wilayah, mulai dari sektor pertanian, perikanan, hingga perkebunan.

Dalam skema tersebut, Kopdes Merah Putih tetap akan berperan sebagai offtaker yang bekerja sama dengan BUMDes.

“Memang ada desa jagung, ada desa padi, ada juga desa ikan nila, desa ikan lele, desa coklat, dan desa-desa lain. Nah ini nanti tetap Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi offtaker-nya bekerjasama dengan badan usaha milik desa,” pungkas Yandri. (*/BPMI/A1)