Bicaraindonesia.id, Temanggung – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) memperkuat upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki musim kemarau dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian dan Penanganan Karhutla serta memperluas keberadaan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Selain memantau titik panas (hotspot), pemerintah juga terus meningkatkan pelatihan dan kapasitas masyarakat dalam pencegahan kebakaran.
Salah satu upaya tersebut dilakukan oleh Masyarakat Peduli Api (MPA) Abdi Bumi di lereng Gunung Sumbing, Desa Batursari, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.
Puluhan relawan MPA membuat sekat bakar guna mencegah api meluas apabila terjadi kebakaran hutan. Mereka juga memeriksa saluran air yang menjadi sumber pasokan air bersih bagi warga sekitar.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Heru Djatmika mengatakan hingga saat ini sebanyak 46 MPA telah terbentuk di berbagai wilayah di Jateng.
Selain itu, Pemprov Jateng juga telah membentuk Satuan Tugas Pengendalian dan Penanganan Karhutla melalui Keputusan Gubernur Jawa Tengah. Satgas tersebut melibatkan BPBD, DLHK, Dinas Kesehatan, serta perangkat daerah terkait untuk menangani potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Jadi memang harus sinergi antara Satgas dengan MPA. Nah, MPA itu ujung tombak yang nanti memperkuat Satgas yang telah terbentuk. Tempo hari kami juga menggelar pembentukan dan pelatihan MPA di Purworejo,” ujar Heru dalam keterangan tertulisnya dikutip pada Kamis (16/7/2026).
Heru menjelaskan, luas kawasan hutan di Jawa Tengah mencapai 1.385.039 hektare atau sekitar 42,56 persen dari total wilayah provinsi. Luasan tersebut terdiri atas hutan negara seluas 649.413 hektare dan hutan rakyat seluas 735.625 hektare.
Menurutnya, potensi karhutla paling besar berada di kawasan pegunungan yang vegetasinya mulai mengering selama musim kemarau, serta wilayah kering seperti Kabupaten Blora dan Kabupaten Rembang.
“Kami juga telah menggelar apel siaga tingkat provinsi, sebagai bentuk persiapan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan. Kami juga mengajak masyarakat, terutama MPA, tetap semangat membantu apabila terjadi kebakaran,” kata Heru.
Sementara itu, Anggota MPA Abdi Bumi, David Yusuf Setiawan mengatakan, patroli pencegahan kebakaran dilakukan secara rutin selama musim kemarau. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuat sekat bakar dengan membersihkan semak belukar agar api tidak mudah menyebar dan lebih cepat dikendalikan.
“Dulu, sekitar 2016, kebakaran hutan cukup sering terjadi. Kemudian kami mendapat pelatihan dari Cabang Dinas Kehutanan Pemprov Jateng, termasuk berbagai peralatan dan pengetahuan untuk pemadaman kebakaran hutan,” ujar David.
David menambahkan, dampak kebakaran hutan tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam sumber mata air di kawasan hutan. Proses pemulihan ekosistem bahkan dapat berlangsung hingga bertahun-tahun. Kebakaran juga berdampak pada menurunnya jumlah pendaki yang berkunjung ke Gunung Sumbing.
“Tapi pascakebakaran itu yang paling krusial. Karena sumber-sumber air akan mati, begitu juga dengan asapnya pasti akan mengganggu lingkungan kita. Pemulihannya bisa sampai 4-5 tahun baru ada vegetasinya,” tuturnya.
Selain patroli rutin, MPA Abdi Bumi juga aktif memberikan edukasi kepada para pendaki agar tidak menyalakan api unggun di kawasan hutan serta memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang. (*/Hms/C1)

Tinggalkan Balasan