Bicaraindonesia.id, Bandung – Asia Africa Festival (AAF) 2026 tak hanya menjadi magnet wisata, tetapi juga berhasil menggerakkan ekonomi kreatif di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Selama dua hari penyelenggaraan pada 11-12 Juli 2026, festival tersebut mencatat total kunjungan mencapai 259.200 orang dengan nilai transaksi ekonomi di kawasan Asia Africa Market sebesar Rp795.685.000.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan capaian tersebut membuktikan bahwa AAF 2026 mampu menghadirkan perhelatan bertaraf internasional yang tidak hanya mengangkat sejarah dan budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Asia Africa Festival bukan sekadar perayaan budaya. Festival ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan masyarakat, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, seniman, hingga delegasi dari berbagai negara. Yang paling penting, kegiatan ini mampu memberikan dampak ekonomi sekaligus memperkuat posisi Bandung sebagai kota kreatif dan kota yang memiliki sejarah penting bagi dunia,” ujar Farhan dalam keterangan tertulisnya dikutip pada Rabu (15/7/2026).

Menurut Farhan, tingginya jumlah pengunjung menunjukkan bahwa penyelenggaraan event berkualitas mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus menggerakkan berbagai sektor usaha.

“Selama dua hari penyelenggaraan, total kunjungan mencapai lebih dari 259 ribu orang. Ini menunjukkan bahwa event berkualitas mampu menjadi magnet wisata sekaligus menggerakkan sektor UMKM, ekonomi kreatif, perhotelan, kuliner, hingga transportasi. Kami ingin setiap kegiatan pemerintah memiliki multiplier effect bagi perekonomian Kota Bandung,” katanya.

Baca Juga:  Alun-alun Bandung Dibuka 17 Agustus, Ada Pesta Rakyat

Rangkaian AAF 2026 diawali dengan Asia Africa Carnaval yang diikuti 23 komunitas, dua kabupaten/kota, serta dua negara dengan total 1.380 peserta. Karnaval budaya tersebut turut dihadiri delegasi dari 28 negara dan disaksikan sekitar 9.800 pengunjung.

Selain menampilkan keberagaman seni dan tradisi dari berbagai komunitas, karnaval menjadi representasi semangat persahabatan negara-negara Asia dan Afrika.

Sementara itu, Asia Africa Corner yang dipusatkan di Gedung De’Majestik menghadirkan berbagai ruang interaksi seni dan budaya.

Salah satu program unggulannya, Asia Africa Performing Lab, digelar dalam tujuh sesi dengan melibatkan 14 komunitas yang menampilkan pertunjukan seni, pemutaran film, teater monolog, musik, paduan suara, hingga gathering mahasiswa internasional. Program tersebut menarik sekitar 1.200 pengunjung.

Di lokasi yang sama, Asia Africa Culture menghadirkan 40 seniman Kota Bandung dengan beragam karya seni serta satu sesi talkshow bertema seni dan kreativitas yang dikunjungi 875 orang selama dua hari.

Baca Juga:  Penerbangan Internasional dari Bandara Husein Ditarget Oktober

Kontribusi terbesar terhadap perputaran ekonomi festival berasal dari Asia Africa Market. Sebanyak 49 tenant dan 18 pengisi acara memeriahkan kawasan tersebut dengan menghadirkan produk UMKM, kuliner, fesyen, kriya, hingga hiburan.

Farhan menilai transaksi yang hampir menyentuh Rp800 juta menjadi bukti bahwa festival budaya mampu memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada pelaku usaha.

“Kehadiran pengunjung memberikan manfaat langsung bagi pelaku UMKM dan industri kreatif. Ini yang terus akan kami dorong agar setiap event memberikan dampak ekonomi yang luas,” ungkapnya.

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, AAF 2026 juga mengusung konsep Sustainable Event sebagai komitmen terhadap penyelenggaraan kegiatan yang ramah lingkungan.

Penghitungan jumlah pengunjung dilakukan menggunakan sejumlah metode. Untuk kawasan Asia Africa Market, data diperoleh melalui sistem CCTV Counting yang mencatat rata-rata pergerakan sekitar 180 orang per menit.

Estimasi penonton Asia Africa Carnaval dihitung berdasarkan luas area kegiatan sekitar 9.477 meter persegi dengan kapasitas sekitar 16.923 orang, sedangkan jumlah pengunjung Asia Africa Corner mengacu pada data registrasi daring yang mencatat 2.075 pendaftar.

Baca Juga:  Serdik Sespimmen Polri Dalami Ketahanan Pangan di Tasikmalaya

Melalui program WAHU, penyelenggara bersama masyarakat berhasil mengumpulkan 807,58 kilogram sampah plastik atau setara sekitar 18 meter kubik dari empat hub pengumpulan di Kota Bandung selama tujuh hari menjelang pelaksanaan festival.

Berdasarkan identifikasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, total sampah yang berhasil dikelola mencapai 22 meter kubik, terdiri atas 18 meter kubik sampah plastik (80 persen), dua meter kubik sampah organik (10 persen), dan dua meter kubik sampah residu (10 persen).

AAF 2026 juga menghasilkan emisi karbon sebesar 10,82 ton CO₂e. Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Kota Bandung akan menjalankan program carbon offset melalui penanaman 110 pohon produktif di Kecamatan Sumur Bandung, Lengkong, dan Regol bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

“Karena itu kami menghitung jejak karbon penyelenggaraan kegiatan dan melakukan kompensasi melalui penanaman pohon produktif. Ini menjadi bagian dari komitmen Bandung menuju penyelenggaraan event yang lebih berkelanjutan,” jelas Farhan.

Ia berharap Asia Africa Festival terus berkembang sebagai agenda internasional yang semakin memperkuat posisi Bandung sebagai Kota Asia Afrika sekaligus destinasi wisata budaya dunia. (*/Sp/C1)