Bicaraindonesia.id, Banyuwangi Produksi beras Kabupaten Banyuwangi pada semester I 2026 mencatat surplus sebesar 174 ribu ton. Surplus tersebut menjadi bukti daerah berjuluk Bumi Blambangan itu masih mampu menjaga produktivitas sektor pertanian, khususnya tanaman pangan.

Data Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mencatat, produksi beras sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 255.257 ton.

Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat selama periode yang sama sebesar 81.252 ton. Selisih antara produksi dan konsumsi tersebut menghasilkan surplus sekitar 174 ribu ton beras.

“Alhamdulillah kinerja baik bidang pertanian khususnya tanaman pangan Banyuwangi bisa terus kami pertahankan. Produksi beras Banyuwangi dari tahun ke tahun selalu surplus. Begitu juga di semester awal tahun 2026 ini,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam keterangannya dikutip pada Minggu (5/7/2026).

Baca Juga:  HUT ke-81 RI, Naik Transportasi Publik Surabaya Cuma Rp81

Pada tahun sebelumnya, total produksi beras Banyuwangi sepanjang 2025 mencapai 546.923,81 ton. Dengan konsumsi lokal masyarakat sebesar 163.665,78 ton, daerah ini membukukan surplus beras hingga 383.258,03 ton.

Menurut Ipuk, surplus beras yang dihasilkan Banyuwangi tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia untuk mendukung cadangan pangan nasional.

“Surplus beras produksi Banyuwangi sebagian didistribusikan ke berbagai daerah lain di Indonesia guna menopang cadangan pangan nasional melalui Perum Bulog,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Danang Hartanto mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil dari sejumlah strategi yang diterapkan pemerintah daerah bersama petani. Salah satunya melalui optimalisasi luas tanam.

Baca Juga:  Polisi Bongkar Produksi Tembakau Sintetis di Kamar Kos

“Luas baku sawah di Banyuwangi tercatat di angka 62.940 hektare. Namun, melalui optimalisasi, luas tanam, berhasil ditingkatkan hingga mencapai 121.319 hektare pada tahun 2025,” ujar Danang.

Selain itu, Pemkab Banyuwangi juga meningkatkan indeks pertanaman (IP) dengan mendorong intensifikasi lahan. Sawah yang sebelumnya hanya ditanami padi satu hingga dua kali dalam setahun ditingkatkan menjadi tiga sampai empat kali musim tanam.

Upaya lain dilakukan melalui mekanisasi pertanian dengan pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern. Pemerintah daerah juga memfasilitasi petani melalui penerbitan rekomendasi pembelian BBM solar untuk mendukung operasional alsintan.

Baca Juga:  Serdik Sespimmen Polri Dalami Ketahanan Pangan di Tasikmalaya

“Dengan mekanisasi membantu mempercepat proses masa tanam hingga panen raya, sehingga menekan risiko gagal panen atau kerugian pascaproduksi,” pungkasnya. (*/Sp/C1)